FINANSIAL- Banyak nasabah masih menganggap rekening dormant sebagai hal sepele. Padahal, rekening yang terlalu lama tidak aktif dapat memicu berbagai kendala, mulai dari transaksi tertolak, layanan mobile banking terganggu, hingga proses aktivasi ulang yang cukup merepotkan.
Fenomena rekening dormant atau rekening tidur semakin sering terjadi karena masyarakat kini memiliki lebih dari satu rekening bank. Sebagian rekening dipakai untuk gaji, investasi, bisnis online, dompet digital, hingga kebutuhan transaksi harian. Akibatnya, banyak rekening terlupakan dan tidak lagi memiliki aktivitas transaksi.
Rektor Perbanas Institute, Hermanto Siregar menjelaskan bahwa rekening dormant merupakan rekening yang tidak memiliki aktivitas transaksi dalam periode tertentu.
Menurut Hermanto, status dormant biasanya muncul setelah rekening tidak menerima transaksi masuk maupun keluar selama minimal tiga bulan. Dalam kondisi tertentu, bank bahkan dapat menganggap rekening sudah tidak digunakan lagi jika tidak aktif selama enam hingga sembilan bulan.
“Dormant itu artinya rekening tidur karena tidak ada aktivitas transaksi,” jelas Hermanto.
Apa Itu Rekening Dormant?
Rekening dormant adalah rekening tabungan yang tidak menunjukkan aktivitas finansial dalam jangka waktu tertentu sesuai kebijakan bank masing-masing. Aktivitas yang dimaksud meliputi:
- Transfer masuk
- Transfer keluar
- Tarik tunai
- Setor tunai
- Pembayaran tagihan
- Transaksi debit
- Pembelian online
- Auto debit
Jika seluruh aktivitas tersebut berhenti dalam periode tertentu, sistem bank otomatis mengubah status rekening menjadi dormant atau tidak aktif sementara.
Meski begitu, rekening dormant berbeda dengan rekening tertutup permanen. Dana nasabah biasanya masih tersimpan aman di bank selama saldo memenuhi ketentuan yang berlaku.
Penyebab Rekening Menjadi Dormant
Banyak faktor membuat rekening berubah menjadi dormant. Berikut penyebab yang paling sering terjadi:
1. Nasabah Memiliki Terlalu Banyak Rekening
Saat ini masyarakat sering membuka rekening baru demi promo cashback, kebutuhan investasi, atau syarat aplikasi keuangan digital. Namun setelah beberapa bulan, rekening tersebut tidak lagi digunakan.
Akibatnya, rekening menjadi pasif tanpa disadari.
2. Rekening Hanya Dipakai Sekali
Sebagian rekening hanya dipakai untuk:
- Penerimaan bantuan
- Pendaftaran kerja
- Keperluan bisnis sementara
- Pencairan dana tertentu
Setelah kebutuhan selesai, rekening langsung ditinggalkan tanpa transaksi lanjutan.
3. Saldo Terus Berkurang karena Biaya Admin
Meski rekening tidak digunakan, beberapa bank tetap memotong biaya administrasi bulanan. Jika saldo semakin kecil dan tidak ada transaksi baru, rekening berpotensi masuk status dormant.
4. Nasabah Lupa Memantau Rekening
Banyak nasabah jarang membuka aplikasi mobile banking pada rekening tertentu. Kondisi ini membuat rekening lama tidak terpantau hingga akhirnya berubah menjadi tidak aktif.
Risiko Jika Rekening Dormant Dibiarkan Terlalu Lama
Status dormant sebenarnya bukan hal berbahaya. Namun jika dibiarkan terus-menerus, nasabah dapat menghadapi sejumlah risiko finansial dan administratif.
Transaksi Bisa Ditolak
Saat rekening dormant, beberapa fitur perbankan biasanya berhenti sementara, seperti:
- Transfer online
- Tarik tunai ATM
- Mobile banking
- Internet banking
- Pembayaran otomatis
Akibatnya, transaksi mendadak bisa gagal saat rekening dibutuhkan.
Aktivasi Ulang Bisa Merepotkan
Beberapa bank masih meminta nasabah datang langsung ke kantor cabang untuk aktivasi ulang rekening dormant. Nasabah biasanya harus membawa:
- KTP
- Buku tabungan
- Kartu ATM
- Dokumen tambahan tertentu
Jika rekening berada di kota berbeda, proses ini tentu menjadi lebih rumit.
Potensi Pemotongan Saldo
Sebagian rekening dormant tetap dikenakan biaya administrasi bulanan. Jika saldo kecil, dana bisa terus terpotong hingga habis.
Karena itu, rekening yang tidak digunakan sebaiknya ditutup resmi agar tidak memunculkan biaya tersembunyi.
Rawan Lupa Data Penting
Nasabah yang jarang memakai rekening sering lupa:
- PIN ATM
- Password mobile banking
- Nomor kartu
- Email terdaftar
Kondisi ini membuat proses pemulihan akun semakin panjang.
Cara Agar Rekening Tidak Menjadi Dormant
Hermanto menegaskan bahwa rekening sebenarnya sangat mudah dijaga agar tetap aktif. Nasabah hanya perlu melakukan transaksi ringan secara berkala.
Berikut beberapa cara paling efektif:
Transfer Nominal Kecil
Nasabah cukup melakukan transfer kecil, misalnya Rp10 ribu setiap beberapa minggu.
Aktivitas sederhana ini sudah cukup membuat rekening tetap aktif di sistem bank.
Gunakan Auto Debit
Pembayaran otomatis seperti:
- Tagihan listrik
- Air
- Internet
- Langganan digital
dapat membantu rekening tetap memiliki aktivitas rutin.
Tarik Tunai Sesekali
Penarikan uang lewat ATM juga termasuk aktivitas transaksi yang menjaga rekening tetap aktif.
Gunakan untuk Transaksi Harian
Sesekali gunakan rekening untuk:
- Belanja online
- Pembayaran QRIS
- Transfer e-wallet
- Top up dompet digital
Dengan begitu, rekening tetap tercatat aktif.
Cara Mengaktifkan Rekening Dormant
Jika rekening sudah berubah menjadi dormant, nasabah tidak perlu panik. Sebagian besar bank kini menyediakan proses aktivasi yang lebih cepat.
Aktivasi Lewat Mobile Banking
Beberapa bank digital dan bank besar telah menyediakan aktivasi online melalui aplikasi mobile banking.
Nasabah biasanya cukup:
- Login aplikasi
- Verifikasi identitas
- Lakukan transaksi kecil
- Rekening kembali aktif
Menghubungi Call Center
Bank tertentu memungkinkan aktivasi melalui layanan customer service atau call center resmi.
Namun petugas biasanya tetap melakukan verifikasi data nasabah terlebih dahulu.
Datang ke Kantor Cabang
Jika aktivasi online gagal, nasabah perlu datang langsung ke cabang bank dengan membawa:
- KTP asli
- Buku tabungan
- Kartu ATM
Petugas kemudian membantu proses reaktivasi rekening.
Apakah Rekening Dormant Tetap Aman?
Hermanto memastikan rekening dormant tetap memperoleh perlindungan keamanan yang sama dengan rekening aktif.
Menurutnya, standar keamanan seluruh bank telah diatur oleh Otoritas Jasa Keuangan sehingga tidak boleh ada perbedaan sistem perlindungan antarbank.
Meski demikian, ia tetap mengingatkan pentingnya peran nasabah dalam menjaga keamanan rekening pribadi.
Nasabah perlu rutin:
- Mengecek mutasi rekening
- Memantau transaksi mencurigakan
- Mengganti PIN secara berkala
- Menghindari membagikan OTP
- Mengaktifkan notifikasi transaksi
Langkah sederhana tersebut sangat penting untuk mencegah penyalahgunaan rekening.
OJK Terus Awasi Sistem Keamanan Bank
Selain mengawasi teknologi keamanan, OJK juga memperhatikan kualitas sumber daya manusia di industri perbankan.
Hermanto menyebut pimpinan dan direksi bank wajib memiliki kemampuan manajemen risiko serta sertifikasi tertentu agar sistem pengawasan berjalan optimal.
Pengawasan tersebut bertujuan menjaga kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan nasional yang terus berkembang pesat, terutama di era bank digital dan transaksi online.
Jangan Sembarangan Membuka Banyak Rekening
Hermanto juga mengingatkan masyarakat agar tidak terlalu banyak membuka rekening jika tidak mampu mengelolanya dengan baik.
Menurutnya, memiliki terlalu banyak rekening justru meningkatkan risiko:
- Lupa transaksi
- Saldo terpotong biaya admin
- Rekening dormant
- Kebocoran data
- Penyalahgunaan rekening
Karena itu, masyarakat sebaiknya hanya menggunakan rekening sesuai kebutuhan utama.
Jika ada rekening yang sudah tidak dipakai, penutupan resmi di bank menjadi pilihan paling aman dibanding membiarkannya tidak aktif terlalu lama.
Kesimpulan
Rekening dormant memang bukan kondisi berbahaya, tetapi dapat menimbulkan berbagai masalah jika dibiarkan terlalu lama. Mulai dari transaksi gagal, biaya administrasi tersembunyi, hingga proses aktivasi ulang yang merepotkan.
Nasabah sebenarnya bisa mencegah rekening menjadi dormant dengan langkah sederhana seperti transfer kecil, tarik tunai, atau menggunakan auto debit secara berkala.
Di tengah meningkatnya penggunaan layanan perbankan digital, pengelolaan rekening secara aktif menjadi hal penting agar keamanan dan kenyamanan transaksi tetap terjaga.(*)









