FINANSIAL- Pasar modal Indonesia memasuki periode penuh tekanan pada Mei 2026. Keputusan MSCI yang mengeluarkan sejumlah saham Indonesia dari indeks global langsung memicu aksi jual besar-besaran di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dampaknya tidak hanya menghantam IHSG, tetapi juga menggerus kekayaan para konglomerat Tanah Air dalam waktu singkat.
Perubahan besar langsung terlihat pada daftar orang terkaya Indonesia versi Forbes Real Time Billionaires. Sejumlah nama yang sebelumnya mendominasi posisi teratas kini turun drastis akibat anjloknya harga saham perusahaan mereka.
Sebaliknya, beberapa taipan justru berhasil memperkuat posisi di tengah gejolak pasar. Salah satu nama yang paling mencuri perhatian ialah Anthoni Salim.
Prajogo Pangestu Masih Nomor Satu, Tetapi Hartanya Ambles Fantastis
Nama Prajogo Pangestu memang masih bertahan sebagai orang terkaya di Indonesia pada Mei 2026. Namun, tekanan besar di saham grup Barito membuat nilai kekayaannya turun sangat tajam.
Berdasarkan data Forbes Real Time Billionaires, kekayaan Prajogo Pangestu kini berada di angka US$17,5 miliar atau sekitar Rp308,4 triliun. Pada Januari 2026 lalu, total hartanya sempat mencapai US$37,8 miliar.
Artinya, dalam waktu sekitar empat bulan saja, kekayaan pemilik Grup Barito tersebut menyusut lebih dari US$20 miliar atau sekitar Rp357 triliun.
Penurunan tersebut terjadi setelah saham-saham unggulan miliknya mengalami koreksi tajam usai MSCI mengeluarkan beberapa emiten dari indeks global. Saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) ikut terkena dampak besar.
Tekanan terhadap saham-saham tersebut memicu penurunan valuasi perusahaan sehingga otomatis mengurangi nilai kekayaan Prajogo Pangestu.
Agoes Projosasmito Kehilangan US$4 Miliar
Selain Prajogo Pangestu, nama Agoes Projosasmito juga mengalami tekanan besar. Bos PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) itu sebelumnya sempat menembus jajaran 10 besar orang terkaya Indonesia pada awal 2026.
Kini posisinya merosot ke peringkat ke-14 dengan total kekayaan sekitar US$2,4 miliar atau setara Rp42,3 triliun.
Jika dibandingkan dengan awal tahun, kekayaan Agoes turun drastis dari US$6,4 miliar menjadi hanya US$2,4 miliar. Dengan kata lain, kekayaannya menyusut sekitar US$4 miliar hanya dalam beberapa bulan.
Anjloknya harga saham sektor tambang dan tekanan investor asing setelah keputusan MSCI ikut mempercepat penurunan valuasi aset miliknya.
Hermanto Tanoko Tersingkir dari 10 Besar
Pendiri Tancorp Group, Hermanto Tanoko, juga mengalami nasib serupa. Sebelumnya, Hermanto berada dalam daftar 10 besar orang terkaya Indonesia.
Namun, tekanan pasar membuat posisinya turun ke peringkat ke-17 dengan total kekayaan sekitar US$1,9 miliar.
Penurunan harga saham sejumlah emiten domestik membuat kekayaan para pengusaha yang berbasis pada kepemilikan saham ikut terkoreksi tajam.
Kondisi ini menunjukkan bahwa volatilitas pasar modal memiliki pengaruh sangat besar terhadap daftar miliarder Indonesia.
Anthoni Salim Justru Bersinar di Tengah Gejolak Pasar
Di saat sejumlah konglomerat mengalami penurunan kekayaan, Anthoni Salim justru mencatat lonjakan signifikan.
Bos Grup Salim tersebut kini berada di posisi keempat orang terkaya Indonesia dengan total kekayaan mencapai US$11 miliar atau sekitar Rp193,9 triliun.
Menariknya, pada daftar Forbes awal tahun 2026, nama Anthoni Salim bahkan belum masuk jajaran 10 besar.
Kenaikan tersebut membuat pasar mulai menyoroti strategi bisnis Grup Salim yang dinilai lebih defensif di tengah tekanan pasar modal.
Stabilitas bisnis konsumer dan diversifikasi usaha menjadi faktor utama yang membantu Anthoni Salim mempertahankan pertumbuhan aset saat banyak saham konglomerat lain justru terkoreksi.
Mengapa Keputusan MSCI Sangat Berpengaruh?
MSCI merupakan salah satu penyedia indeks global terbesar di dunia. Banyak investor institusi internasional menggunakan indeks MSCI sebagai acuan investasi.
Karena itu, ketika sebuah saham keluar dari indeks MSCI, banyak dana asing otomatis melakukan penyesuaian portofolio dengan menjual saham terkait.
Dalam rebalancing terbaru yang diumumkan pada 12 Mei 2026, MSCI memutuskan mengeluarkan 18 saham Indonesia dari indeks mereka.
Enam saham bahkan keluar dari daftar MSCI Global Indexes, termasuk beberapa emiten besar milik konglomerat Indonesia.
Saham yang terkena dampak antara lain:
- PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN)
- PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA)
- PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN)
- PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN)
- PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA)
Sementara itu, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) turun kelas dari indeks global ke MSCI Small Cap Indexes.
Keputusan tersebut muncul setelah MSCI menyoroti isu free float dan konsentrasi kepemilikan saham di pasar modal Indonesia.
Saham Free Float Rendah Jadi Sorotan Investor Asing
MSCI menilai beberapa saham Indonesia memiliki tingkat kepemilikan terkonsentrasi terlalu tinggi atau high shareholding concentration (HSC).
Kondisi tersebut membuat likuiditas saham dinilai kurang ideal bagi investor global.
BREN dan DSSA termasuk emiten yang masuk dalam kategori HSC. Akibatnya, MSCI memilih tidak meningkatkan status pasar saham Indonesia dalam evaluasi terbaru mereka.
Keputusan tersebut memicu sentimen negatif besar di pasar. Investor asing langsung mengurangi eksposur terhadap saham Indonesia sehingga IHSG mengalami tekanan.
Karena mayoritas kekayaan konglomerat berasal dari kepemilikan saham perusahaan, penurunan harga saham langsung berdampak pada nilai kekayaan mereka.
Daftar 20 Orang Terkaya Indonesia Mei 2026
Berikut daftar terbaru orang terkaya Indonesia versi Forbes Real Time Billionaires per Mei 2026:
- Prajogo Pangestu – US$17,5 miliar
- Low Tuck Kwong – US$16 miliar
- R Budi Hartono – US$15,7 miliar
- Anthoni Salim – US$11 miliar
- Tahir dan keluarga – US$9 miliar
- Sri Prakash Lohia – US$8,7 miliar
- Otto Toto Sugiri – US$8,5 miliar
- Maria Budiman – US$6,1 miliar
- Lim Hariyanto Wijaya Sarwono – US$4,9 miliar
- Theodore Rachmat – US$4,5 miliar
- Sukanto Tanoto – US$4,3 miliar
- Haryanto Tjiptohadjo – US$4,2 miliar
- Han Arming Hanafia – US$4 miliar
- Agoes Projosasmito – US$2,4 miliar
- Djoko Susanto – US$2 miliar
- Bambang Susantono – US$1,9 miliar
- Hermanto Tanoko – US$1,9 miliar
- Mochtar Riady dan keluarga – US$1,8 miliar
- Wirastuty Fangiono – US$1,8 miliar
- Bachtiar Karim – US$1,6 miliar
Pasar Modal Indonesia Masih Dibayangi Tekanan
Pelaku pasar kini menunggu langkah regulator dan BEI untuk meningkatkan daya tarik pasar modal Indonesia di mata investor global.
Isu free float, transparansi, serta likuiditas saham diperkirakan masih menjadi perhatian utama investor asing dalam beberapa bulan ke depan.
Jika tekanan jual terus berlanjut, perubahan daftar orang terkaya Indonesia kemungkinan masih akan terjadi sepanjang 2026.
Namun, kondisi tersebut juga membuka peluang bagi investor yang mampu memanfaatkan momentum koreksi saham berkualitas di tengah volatilitas pasar.
Banyak analis menilai pasar modal Indonesia masih memiliki fundamental jangka panjang yang kuat. Karena itu, perbaikan sentimen global dan stabilitas ekonomi domestik berpotensi mendorong pemulihan IHSG dalam jangka menengah.
Untuk saat ini, gejolak akibat keputusan MSCI menjadi pengingat bahwa kekayaan para konglomerat Indonesia sangat bergantung pada pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia.(*)









