INTERNASIONAL- Persaingan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) global kini memasuki fase baru yang jauh lebih serius. Jika sebelumnya negara-negara besar berlomba menciptakan model AI paling canggih, kini fokus utama berubah drastis. Dunia mulai melihat negara mana yang paling cepat mengintegrasikan AI ke kehidupan sehari-hari, bisnis, industri, hingga layanan publik.
Dalam persaingan tersebut, Tiongkok tampil jauh lebih agresif dibandingkan Amerika Serikat (AS). Negeri Tirai Bambu tidak hanya membangun teknologi, tetapi juga mendorong masyarakat untuk langsung menggunakannya dalam aktivitas harian.
Sebaliknya, Amerika Serikat masih berkutat pada perdebatan panjang mengenai ancaman AI terhadap lapangan kerja, keamanan data pribadi, hingga persoalan etika teknologi.
Perbedaan arah ini membuat banyak analis menilai China mulai mengambil posisi terdepan dalam perang AI global 2026.
Tiongkok Tidak Lagi Menganggap AI Sebagai Teknologi Masa Depan
Di Beijing, pemandangan antrean panjang warga di depan kantor perusahaan internet seluler menjadi bukti nyata perubahan besar tersebut. Puluhan orang datang untuk mendapatkan bantuan memasang asisten AI agentic bernama OpenClaw di laptop mereka.
Fenomena serupa juga muncul di Shenzhen ketika para insinyur secara langsung membantu masyarakat memahami cara menggunakan teknologi AI tersebut.
Masyarakat Tiongkok kini tidak lagi melihat AI sebagai sesuatu yang rumit atau eksperimental. Mereka memandangnya sebagai alat produktivitas yang harus segera digunakan agar tidak tertinggal.
Sun Lei, seorang manajer sumber daya manusia berusia 41 tahun, menjadi salah satu contoh nyata. Ia menggunakan OpenClaw untuk membantu proses pencarian kandidat kerja dan menyaring ribuan lamaran dari berbagai platform rekrutmen.
Ia mengaku takut tertinggal jika tidak segera memahami perkembangan AI yang bergerak sangat cepat.
Pola pikir seperti ini kini semakin umum di kalangan pekerja profesional, pelaku bisnis, hingga mahasiswa.
Lebih dari 600 Juta Warga China Sudah Menggunakan Generative AI
Data terbaru dari China Internet Network Information Center menunjukkan lebih dari 600 juta warga Tiongkok telah menggunakan AI generatif hingga Desember 2025.
Dalam waktu yang sama, data dari OpenRouter juga memperlihatkan penggunaan token mingguan model AI asal Tiongkok telah melampaui model buatan Amerika Serikat.
Data ini menjadi sinyal kuat bahwa bukan hanya perusahaan besar yang menggunakan AI, tetapi masyarakat umum juga aktif memanfaatkannya setiap hari.
Semakin tinggi penggunaan, semakin cepat pula sistem AI berkembang karena model terus belajar dari interaksi nyata.
Inilah yang membuat ekosistem AI China tumbuh sangat agresif.
Dari Pesan Makanan hingga Kesehatan, AI Masuk ke Semua Sektor
Di Shanghai, pensiunan insinyur teknologi informasi Jason Tong mengaku telah menggunakan chatbot AI seperti Doubao dan Kimi untuk berbagai kebutuhan harian.
Ia memanfaatkan AI untuk mencari informasi cepat, membantu pekerjaan administratif, hingga memantau kadar gula darah melalui layanan kesehatan berbasis AI.
Teknologi tersebut memberinya saran kesehatan personal secara instan tanpa harus menunggu konsultasi panjang.
Menurutnya, penerapan AI secara luas dalam kehidupan sehari-hari tidak bisa dihentikan.
Ia mengibaratkan transformasi ini seperti perubahan dari kereta kuda menuju kereta api. Perubahan itu pasti terjadi dan masyarakat hanya memiliki dua pilihan: ikut beradaptasi atau tertinggal.
Pandangan seperti ini memperlihatkan bagaimana AI telah berubah menjadi kebutuhan nyata, bukan lagi sekadar tren teknologi.
Tencent, Alibaba, dan Baidu Memimpin Revolusi AI China
Percepatan adopsi AI di Tiongkok tidak terjadi secara alami tanpa dukungan perusahaan besar. Raksasa teknologi seperti Tencent, Alibaba, dan Baidu menjadi mesin utama revolusi ini.
Tencent misalnya, telah menyematkan teknologi OpenClaw ke dalam WeChat, aplikasi super yang digunakan masyarakat China untuk berkirim pesan, melakukan pembayaran, memesan makanan, hingga memanggil transportasi online.
Langkah ini membuat AI langsung hadir di tangan ratusan juta pengguna tanpa perlu aplikasi tambahan.
Alibaba juga mulai mengintegrasikan AI berbasis agen ke dalam sistem operasional bisnis dan ekosistem e-commerce mereka.
Sementara itu, Baidu terus memperkuat posisinya dalam pengembangan model bahasa besar dan sistem AI enterprise.
Ketika perusahaan-perusahaan ini bergerak bersamaan, dampaknya menjadi sangat besar terhadap kecepatan adopsi nasional.
Persaingan AI Kini Bergeser dari Model ke Ekosistem
Peneliti ekonomi dan teknologi dari Asia Society Policy Institute, Lizzi Lee, menilai persaingan AI global telah berubah secara fundamental.
Menurutnya, kompetisi tidak lagi hanya soal siapa yang memiliki model paling pintar, tetapi siapa yang berhasil membangun ekosistem paling kuat.
Pengguna di Tiongkok kini bertindak sebagai penguji langsung dalam skala besar. Mereka memberikan umpan balik nyata setiap hari yang mempercepat pengembangan teknologi secara signifikan.
Model AI yang hidup di tengah masyarakat akan berkembang jauh lebih cepat dibandingkan model yang hanya berada di laboratorium.
Inilah kekuatan terbesar China saat ini.
Mereka tidak hanya menciptakan AI, tetapi juga memakainya secara masif.
OpenClaw Jadi Senjata Baru dalam Perang Teknologi AI
OpenClaw menjadi salah satu simbol penting dalam transformasi ini. Teknologi tersebut dikembangkan oleh pengembang perangkat lunak asal Austria, Peter Steinberger.
Namun ironisnya, pertumbuhan paling pesat justru terjadi di Tiongkok.
OpenClaw mampu menyelesaikan tugas kompleks secara otomatis, mulai dari membuat laporan, mengelola media sosial, mencari kandidat kerja, hingga membangun situs web hanya dalam hitungan menit.
Mahasiswa asal Makau, Zhao Yikang, mengaku menggunakan AI untuk membuat video promosi dan mengelola akun media sosial saat menjalani magang di perusahaan properti di Zhuhai.
Hasilnya mengejutkan.
Dalam waktu sekitar 10 menit, sistem tersebut menghasilkan situs yang siap digunakan dengan biaya kurang dari 5 yuan atau sekitar Rp12.710.
Efisiensi seperti ini menjadi alasan utama mengapa AI semakin cepat diterima generasi muda.
Amerika Serikat Masih Tertahan oleh Regulasi dan Ketakutan
Sementara China bergerak cepat, Amerika Serikat masih menghadapi hambatan internal yang cukup besar.
Perdebatan mengenai keamanan data, privasi, hilangnya lapangan kerja, hingga etika penggunaan AI terus mendominasi diskusi publik dan kebijakan pemerintah.
Banyak perusahaan harus menghadapi regulasi yang lebih ketat sebelum meluncurkan inovasi AI secara luas.
Akibatnya, proses adopsi berjalan lebih lambat dibandingkan Tiongkok.
Padahal secara teknologi dasar, AS masih memiliki kekuatan besar melalui perusahaan seperti OpenAI, Google, Microsoft, dan Anthropic.
Namun dalam praktik penggunaan massal, China justru terlihat lebih siap.
Stanford Sebut Kesenjangan AI AS dan China Hampir Hilang
Laporan dari Stanford University Institute for Human-Centered AI bahkan menyebut jarak performa model AI papan atas Amerika Serikat dan Tiongkok secara efektif telah tertutup.
Artinya, keunggulan teknis AS tidak lagi terlalu dominan seperti beberapa tahun lalu.
Kepala analis Omdia, Lian Jye Su, menilai Tiongkok tidak membutuhkan waktu lama untuk berubah dari fast follower menjadi inovator sejajar dengan Amerika Serikat.
Prediksi ini menjadi sinyal kuat bahwa peta kekuatan teknologi global sedang bergeser.
Masa Depan AI Global Akan Ditentukan oleh Siapa yang Paling Cepat Bergerak
Perang AI global 2026 bukan lagi soal teori, melainkan soal kecepatan implementasi.
Tiongkok memahami satu hal penting: teknologi hanya bernilai ketika masyarakat benar-benar menggunakannya.
Karena itu, mereka mendorong adopsi AI secara besar-besaran di semua sektor, mulai dari pekerjaan, pendidikan, kesehatan, bisnis, hingga kehidupan rumah tangga.
Amerika Serikat masih unggul dalam inovasi dasar, tetapi China semakin kuat dalam penerapan nyata.
Pertarungan ini akan menentukan siapa yang memimpin ekonomi digital dunia dalam dekade berikutnya.
Dan saat ini, semua tanda menunjukkan bahwa Tiongkok sedang melaju sangat cepat menuju posisi tersebut.(*)









