Qixiobuzz.com – Romawi. Marcus Aurelius dikenal sebagai Kaisar Filsuf terakhir dari Lima Kaisar Baik, maka anaknya, Commodus, dikenal sebagai Kaisar yang mengakhiri 84 tahun Pax Romana atau Perdamaian Romawi.
Commodus lahir dengan nama Lucius Aurelius Commodus pada 31 Agustus 161 M di Lanuvium, dekat Roma. Ia adalah satu-satunya putra Kaisar Marcus Aurelius dan Faustina Muda yang selamat hingga dewasa. Ia juga tercatat sebagai Kaisar pertama dalam sejarah Romawi yang lahir “in the purple” atau lahir saat ayahnya masih bertahta.
Pada usia 16 tahun, tahun 177 M, ia diangkat menjadi Kaisar termuda dalam sejarah Roma dan menjadi rekan Kaisar ayahnya. Ia bahkan ikut mendampingi ayahnya dalam Perang Marcomannic di Sungai Donau.
Dari Kaisar Menjadi Gladiator
Ketika Marcus Aurelius wafat pada 17 Maret 180 M, Commodus naik tahta penuh pada usia 18 tahun. Ini adalah pertama kalinya seorang anak kandung mewarisi tahta dari ayah kandungnya sejak Kaisar Titus mewarisi Vespasianus pada tahun 79 M.
Di awal pemerintahannya, Kekaisaran justru mengalami lebih sedikit konflik militer dibanding masa ayahnya. Namun di dalam istana, intrik dan konspirasi merajalela.
Commodus kemudian mengubah gaya kepemimpinan menjadi semakin diktator. Ia menyerahkan urusan negara kepada pejabat istananya seperti Saoterus, Perennis, dan Cleander, sementara ia sendiri tenggelam dalam kesenangan dunia.
Puncaknya, ia menciptakan kultus kepribadian dewa. Ia mengaku sebagai Hercules Romanus atau Hercules dari Roma, dan tampil sendiri sebagai Gladiator di Colosseum. Untuk setiap penampilannya, ia membebankan biaya sangat besar kepada negara.
Sejarawan Romawi Cassius Dio menggambarkan pemerintahannya sebagai penuh kekejaman dan keborosan, sebuah perpaduan sensualitas, kekejaman, dan kehinaan yang mengejutkan.
Akhir Tragis di Tangan Pegulat
Selama 12 tahun berkuasa, banyak persekongkolan untuk membunuhnya. Usaha pertama oleh kakaknya sendiri, Lucilla, pada tahun 183 M gagal dan berakhir dengan pembantaian para pendukungnya.
Akhirnya pada 31 Desember 192 M, konspirasi yang melibatkan selirnya Marcia, prefek Laetus, dan bendahara istana Eclectus berhasil. Setelah upaya meracuninya gagal, Commodus dicekik hingga tewas di pemandiannya oleh seorang pegulat bernama Narcissus.
Kematian Commodus di usia 31 tahun menandai berakhirnya Dinasti Nerva-Antonine yang agung. Setelah kematiannya, Senat menjatuhkan hukuman _damnatio memoriae_ atau penghapusan ingatan sejarah kepadanya.
Tahtanya kemudian diambil alih oleh Pertinax, yang menjadi Kaisar pertama di Tahun Lima Kaisar yang penuh gejolak. Sejak Commodus, Kekaisaran Romawi memasuki satu abad kekacauan dan kemunduran.
Inilah ironi sejarah: anak dari Kaisar paling bijaksana, justru menjadi Kaisar yang mengakhiri Zaman Keemasan Roma.(MM#).










