Kayu Eboni ” Emas Hitam” Bernilai Ratusan Juta Per Meter kubik

Kayu Eboni termahal di dunia

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 22 Juli 2026 - 21:46 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Kayu Eboni " Emas Hitam" Bernilai Ratusan Juta Per Meter kubik

Kayu Eboni " Emas Hitam" Bernilai Ratusan Juta Per Meter kubik

Qixiobuzz.com –  Nama Kayu Eboni Sulawesi Tengah kembali jadi sorotan. Salah satu Jenis

kayu endemik Indonesia ini di kenal sebagai ” emas hitam” karena earna gelap khas dan nilai ekonominya yang sangat tinggi. Di pasaran internasional, harga eboni bisa mencapai ratusan juta rupiah per meter kubik.

Eboni hitam Sulawesi memiki nama ilmia Diospyros celebica Bakh. Ciri utamanya adalah warna hitam pekat merata dengan serat halus yang membuatnya banyak di buru untuk kerajinan mewah, perkakas usik, hingga furnitur kelas dunia. Kekuatan dan daya tahanya juga luar biasa Kayu ini tahan air, tahan rayap, dan bisa bertahan hingga 100 tahun. Salah satu pusat sebaran eboni berkualitas tinggi berada di Sulawesi Tengah, termasuk wilayah Kabupaten Poso, Donggala,dan Parigi. Meski eboni juga di temukan di daerah lain seperti Sulawesi Selatan, Gorontalo, Maluku Utara, eboni dari Sulawesi Tengah memiliki karakteristik morfologi berbeda dan paling banyak di cari pasar. Karena itu poso sering di sebut sebagai salah satu kantong utama eboni terbaik di Indonesia.

Baca Juga :  Mari Kita wujudkan Jambi sebagai lumbung pangan Sumatera

Soal harga, eboni termasuk kayu termahal di dunia. Di pasar internasional tahun 2019 harganya di taksir mencapai Rp 120 juta per meter kubik. Sementara di pasar nasional, harganya bisa Rp 10 juta per meter kubik, bahkan untuk kualitas terbaik dengan warna hitam merata mencapai sekitar Rp 7 juta per meter kubik. Di pasar gelap luar negeri seperti Malaysia, Jepang, atau China, 1 kubik bisa di jual 5-6 juta Rupiah. sayngnya tingginya permintaan membuat populasi eboni semakin langka. Sejak 1998, eboni masuk kategori Vulunerable dalam Daftar Merah IUCN Pada 2013, eboni juga masuk Appendix II CITES yang artinya perdaganganya hanya boleh berdasarkan kuota. Di luar kawasan konservasi, tegakan eboni di perkirakan terus berkurang akibat deforestasi di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Barat.

Baca Juga :  Cegah Lonjakan DBD di Musim Hujan

Pemerintah dan pegiat lingkungan terus mendorong pelestarian eboni. Karena pertumbuhanya lama dan penebangan liar masih terjadi, konservasi menjadi kunci agar ” emas hitam” dari Sulawesi ini tidak punah. Dengan pengelolaan yang bijak, eboni bisa tetap menjadi kebanggaan dan sumber ekonomi masyarakat sulawesi Tengah tanpa merusak hutan.

 

Berita Terkait

Kemenag Jambi : Produk Halal Kunci UMKM Naik Kelas
Polpulasi Satwa Diharapkan Pulih, Perburuan di Kerinci Seblat Alami Penurunan
Raden Hamzah Darah Bangsawan Pijoan, Pejuang Negeri Jambi
Cegah Lonjakan DBD di Musim Hujan
Liburan ke Gunung Kerinci, Rasakan Indahnya Atap Sumatera
Mari Kita wujudkan Jambi sebagai lumbung pangan Sumatera
Temenggung Yusup Suku Anak Dalam dan Yayasan Raden Hamzah Wujudkan “1 Temenggung 1 Desa Adat”
Petani Panen Padi dan Jagung, Dorong Ketahanan Pangan Indonesia
Berita ini 15 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 27 Juli 2026 - 17:05 WIB

Kemenag Jambi : Produk Halal Kunci UMKM Naik Kelas

Minggu, 26 Juli 2026 - 22:45 WIB

Polpulasi Satwa Diharapkan Pulih, Perburuan di Kerinci Seblat Alami Penurunan

Minggu, 26 Juli 2026 - 12:33 WIB

Raden Hamzah Darah Bangsawan Pijoan, Pejuang Negeri Jambi

Sabtu, 25 Juli 2026 - 18:09 WIB

Cegah Lonjakan DBD di Musim Hujan

Jumat, 24 Juli 2026 - 14:41 WIB

Mari Kita wujudkan Jambi sebagai lumbung pangan Sumatera

Berita Terbaru

Kemenag Jambi : Produk Halal Kunci UMKM Naik Kelas(foto:diskuk.jabarprov)

Daerah

Kemenag Jambi : Produk Halal Kunci UMKM Naik Kelas

Senin, 27 Jul 2026 - 17:05 WIB

Ilustrasi - Raden Hamzah Darah Bangsawan Pijoan, Pejuang negeri Jambi

Budaya

Raden Hamzah Darah Bangsawan Pijoan, Pejuang Negeri Jambi

Minggu, 26 Jul 2026 - 12:33 WIB

Cegah Lonjakan DBD di Musim Hujan
(Foto:  jatigono-kunir.lumajangkab)

Daerah

Cegah Lonjakan DBD di Musim Hujan

Sabtu, 25 Jul 2026 - 18:09 WIB