Wayang Kulit Yogyakarta Tembus Pasar Internasional, Kerajinan Bali Ikut Panen Permintaan

Kerajinan tradisional Indonesia terus diminati hingga pasar global.

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 31 Juli 2026 - 08:00 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Wayang Kulit Yogyakarta Tembus Pasar Internasional, Kerajinan Bali Ikut Panen Permintaan
(Foto: indonesia.travel/AI)

Wayang Kulit Yogyakarta Tembus Pasar Internasional, Kerajinan Bali Ikut Panen Permintaan (Foto: indonesia.travel/AI)

Qixiobuzz.com – Di saat produk berbasis teknologi mendominasi berbagai sektor, kerajinan tradisional Indonesia justru menunjukkan daya tahan yang mengejutkan. Wayang kulit dari Yogyakarta hingga karya seni khas Bali masih menjadi buruan pembeli, tidak hanya di dalam negeri tetapi juga di berbagai negara. Tren tersebut menjadi sinyal bahwa nilai budaya mampu berubah menjadi komoditas ekonomi bernilai tinggi.

Fenomena ini terlihat dari perjalanan Suyono, pemilik Omah Wayang Maju Karya. Ia merupakan generasi ketiga keluarga pengrajin wayang kulit yang melanjutkan tradisi turun-temurun. Ketertarikannya terhadap seni wayang sudah tumbuh sejak duduk di bangku sekolah dasar sebelum akhirnya membangun usaha secara mandiri pada 1990. Menurut Suyono, pengalaman panjang itu menjadi modal penting untuk menjaga kualitas sekaligus mempertahankan kepercayaan pelanggan. Ia mengaku mulai mempelajari teknik pembuatan wayang sejak kelas empat SD dan terus mengembangkannya hingga kini.

Empat Dekade Berkarya, Pasar Ekspor Terus Menguat

Perjalanan usaha yang di mulai lebih dari tiga dekade lalu kini membuahkan hasil. Sekitar 40 persen penjualan wayang kulit produksinya berasal dari pasar internasional, sedangkan 60 persen lainnya masih di serap pasar domestik.

Baca Juga :  Ikan Hias Arwana Si Naga Air yang Harganya Tembus Ratusan Juta

Di Indonesia, pembelinya di dominasi para dalang serta kolektor dari berbagai kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Permintaan yang stabil membuat produksi terus berjalan sepanjang tahun. Untuk memenuhi kebutuhan pasar tersebut, Suyono menggandeng 17 mitra kerja. Kolaborasi itu memungkinkan proses produksi tetap berlangsung tanpa mengurangi kualitas detail pada setiap wayang yang di buat secara manual.

Harga produknya pun sangat beragam. Wayang kulit berukuran kecil di pasarkan mulai sekitar Rp50 ribu, sementara karya dengan tingkat kerumitan tinggi dapat mencapai jutaan rupiah.

Festival Bali Dongkrak Permintaan Produk Seni

Di Bali, geliat industri kerajinan juga menunjukkan perkembangan positif. Keju Juwhat, pemilik Keju Art Studio, mengembangkan usahanya sejak 2015 dengan memproduksi berbagai karya seni khas Pulau Dewata. Awalnya ia membuat beragam produk kerajinan, namun kini fokus memproduksi topeng layang-layang karena permintaan meningkat seiring penyelenggaraan festival layang-layang di Bali. Momentum tersebut menjadi peluang besar bagi pelaku UMKM kreatif.

Sebagian besar produknya menggunakan bahan dasar kayu. Sementara itu, untuk topeng ogoh-ogoh, proses pembuatannya memanfaatkan tanah liat atau clay yang di bentuk, di hias, lalu di pasang pada struktur ogoh-ogoh sesuai karakter yang di inginkan.

Baca Juga :  Wayang Kulit warisan budaya Indonesia yang paling terkenal.

Pasar Domestik Masih Sangat Luas

Tidak hanya mengandalkan pembeli di Bali, karya seni buatan Keju Art Studio kini telah di pasarkan ke berbagai daerah, mulai dari Pulau Jawa hingga Papua. Jangkauan distribusi yang semakin luas menunjukkan minat masyarakat terhadap produk budaya lokal masih terus tumbuh. Dalam operasionalnya, Juwhat mempekerjakan empat tenaga kerja yang membantu proses produksi. Harga layang-layang buatannya di pasarkan mulai Rp500 ribu untuk ukuran kecil, sedangkan ukuran besar dengan desain khusus dapat mencapai puluhan juta rupiah.

Kerajinan Tradisional Menjadi Penopang Ekonomi Kreatif

Keberhasilan dua pelaku usaha tersebut memperlihatkan bahwa kerajinan tradisional tidak hanya berfungsi sebagai simbol budaya, tetapi juga menjadi sumber penghasilan yang mampu menciptakan lapangan kerja. Di tengah persaingan produk modern, konsistensi menjaga kualitas, mempertahankan teknik pembuatan tradisional, serta membaca peluang pasar menjadi faktor utama yang membuat wayang kulit dan kerajinan khas Bali tetap di minati. Kondisi ini sekaligus memperkuat posisi ekonomi kreatif Indonesia yang bertumpu pada kekayaan budaya lokal sebagai daya saing di pasar nasional maupun internasasional.

(A/*)

Berita Terkait

APAKAH SPESIES DINOSAURUS DAN MANUSIA PERNAH HIDUP BERDAMPINGAN DALAM SEJARAH BUMI?
RAJA DJOSER SANG ARSITEK PERTAMA PIRAMIDA – 2700 SM
SUKU ASLI AUSTRALIA: ANTARA PERAYAAN BUDAYA DAN TANTANGAN DISKRIMINASI
KENAPA MEREK GUDANG GARAM ISINYA ROKOK,BUKAN GARAM?
MAJAPAHIT 1405 M – AWAL PERANG SAUDARA PAREGREG
COMMODOUS (180-192 M) – KAISAR GLADIATOR YANG AKHIRI MASA KEEMASAN ROMAWI
PABRIK DAN MEREK ROKOK PERTAMA DI INDONESIA, LAHIR DARI KUDUS
Presiden Prabowo Hadiri BRICS Summit di India, Perkuat Kerja Sama Ekonomi Global
Berita ini 20 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 25 September 2026 - 13:59 WIB

APAKAH SPESIES DINOSAURUS DAN MANUSIA PERNAH HIDUP BERDAMPINGAN DALAM SEJARAH BUMI?

Kamis, 24 September 2026 - 13:24 WIB

RAJA DJOSER SANG ARSITEK PERTAMA PIRAMIDA – 2700 SM

Rabu, 23 September 2026 - 15:32 WIB

SUKU ASLI AUSTRALIA: ANTARA PERAYAAN BUDAYA DAN TANTANGAN DISKRIMINASI

Selasa, 22 September 2026 - 15:44 WIB

KENAPA MEREK GUDANG GARAM ISINYA ROKOK,BUKAN GARAM?

Selasa, 22 September 2026 - 14:30 WIB

MAJAPAHIT 1405 M – AWAL PERANG SAUDARA PAREGREG

Berita Terbaru

PULAU-PULAU INDONESIA: DULUNYA  APAKAH SATU DARATAN( Zona Priangan )

Sejarah

PULAU-PULAU INDONESIA: DULUNYA APAKAH SATU DARATAN?

Sabtu, 26 Sep 2026 - 17:42 WIB

GURUH SOEKARNOPUTRA, SANG SWARA MAHARDIKA TUTUP USIA(Foto:SINDO News)

Agama

GURUH SOEKARNOPUTRA, SANG SWARA MAHARDIKA TUTUP USIA

Sabtu, 26 Sep 2026 - 15:09 WIB