Qixiobuzz.com – Nama Kayu Eboni Sulawesi Tengah kembali jadi sorotan. Salah satu Jenis
kayu endemik Indonesia ini di kenal sebagai ” emas hitam” karena earna gelap khas dan nilai ekonominya yang sangat tinggi. Di pasaran internasional, harga eboni bisa mencapai ratusan juta rupiah per meter kubik.
Eboni hitam Sulawesi memiki nama ilmia Diospyros celebica Bakh. Ciri utamanya adalah warna hitam pekat merata dengan serat halus yang membuatnya banyak di buru untuk kerajinan mewah, perkakas usik, hingga furnitur kelas dunia. Kekuatan dan daya tahanya juga luar biasa Kayu ini tahan air, tahan rayap, dan bisa bertahan hingga 100 tahun. Salah satu pusat sebaran eboni berkualitas tinggi berada di Sulawesi Tengah, termasuk wilayah Kabupaten Poso, Donggala,dan Parigi. Meski eboni juga di temukan di daerah lain seperti Sulawesi Selatan, Gorontalo, Maluku Utara, eboni dari Sulawesi Tengah memiliki karakteristik morfologi berbeda dan paling banyak di cari pasar. Karena itu poso sering di sebut sebagai salah satu kantong utama eboni terbaik di Indonesia.
Soal harga, eboni termasuk kayu termahal di dunia. Di pasar internasional tahun 2019 harganya di taksir mencapai Rp 120 juta per meter kubik. Sementara di pasar nasional, harganya bisa Rp 10 juta per meter kubik, bahkan untuk kualitas terbaik dengan warna hitam merata mencapai sekitar Rp 7 juta per meter kubik. Di pasar gelap luar negeri seperti Malaysia, Jepang, atau China, 1 kubik bisa di jual 5-6 juta Rupiah. sayngnya tingginya permintaan membuat populasi eboni semakin langka. Sejak 1998, eboni masuk kategori Vulunerable dalam Daftar Merah IUCN Pada 2013, eboni juga masuk Appendix II CITES yang artinya perdaganganya hanya boleh berdasarkan kuota. Di luar kawasan konservasi, tegakan eboni di perkirakan terus berkurang akibat deforestasi di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Barat.
Pemerintah dan pegiat lingkungan terus mendorong pelestarian eboni. Karena pertumbuhanya lama dan penebangan liar masih terjadi, konservasi menjadi kunci agar ” emas hitam” dari Sulawesi ini tidak punah. Dengan pengelolaan yang bijak, eboni bisa tetap menjadi kebanggaan dan sumber ekonomi masyarakat sulawesi Tengah tanpa merusak hutan.









