Qixiobuzz.com – INDONESIA. .Tepat pada 20 Oktober 1936, salah satu tragedi laut terbesar di Hindia Belanda terjadi. Kapal penumpang mewah KM Van der Wijck milik Koninklijke Paketvaart Maatschappij atau KPM tenggelam di perairan Laut Jawa, sekitar 50 mil dari Pulau Bawean.
Peristiwa ini menewaskan 131 orang dari total 286 penumpang dan kru, dan dikenang hingga sekarang lewat novel legendaris “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck” karya Hamka.
Kronologi Kecelakaan
KM Van der Wijck bertolak dari Surabaya pada 19 Oktober 1936 pukul 16.00 WIB. Kapal berlayar menuju Makassar dengan singgah di Pelabuhan Parepare dan Tanjung Perak.
Sekitar pukul 02.30 dini hari, 20 Oktober 1936, kapal diterjang cuaca buruk. Ombak tinggi 6 meter dan angin kencang menghantam lambung kanan. Sekat kapal bocor dan air masuk dengan cepat.
Dalam waktu 20 menit kapal miring lalu tenggelam. Kru sempat menurunkan sekoci, namun banyak yang terbalik karena gelombang. Sinyal SOS baru bisa dikirim 15 menit sebelum kapal benar-benar hilang.
Kapal-kapal KPM lain seperti Van Heemskerck_ dan kapal nelayan Bawean datang menolong 5 jam kemudian. Sebanyak 155 orang berhasil selamat, sebagian besar berpegangan pada puing dan drum kosong.
Korban dan Dugaan Penyebab
Dari 131 korban, 87 di antaranya adalah penumpang kelas ekonomi, termasuk banyak pedagang dan pekerja dari Madura dan Sulawesi.
Hasil investigasi KPM menyebut 3 faktor utama:
- Cuaca ekstrem musim barat yang datang lebih awal
- Kelebihan muatan barang dan penumpang gelap
- Kesalahan navigasi karena kapten memotong jalur untuk mengejar jadwal
Kapten Kapal, J. Krohn, termasuk yang selamat dan kemudian diadili. Ia dinyatakan lalai namun hanya mendapat hukuman ringan.
Warisan Budaya: Novel Hamka
Tragedi ini menjadi abadi karena diangkat oleh Buya Hamka menjadi novel “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck” tahun 1938.
Melalui kisah cinta Zainuddin dan Hayati, Hamka menjadikan kapal tersebut simbol perpisahan, adat, dan takdir. Novel ini sudah 20 kali cetak ulang, di film kan 2 kali tahun 1955 dan 2013, dan masih jadi bacaan wajib di sekolah.
Sampai 2026, bangkai KM Van der Wijck diperkirakan berada di kedalaman 60 meter di Laut Jawa. Lokasinya belum pernah dievakuasi karena dianggap sebagai situs makam laut.
Peringatan 90 Tahun
Tahun ini, 20 Oktober 2026, keluarga korban dan komunitas pelaut akan menggelar tabur bunga di Pelabuhan Tanjung Perak. Kementerian Perhubungan juga merilis prangko khusus mengenang tragedi tersebut.(MM#)










