Qixiobuzz.com – Jambi. Siapa yang tidak suka gulai, rendang, opor, atau kolak? Hampir semua makanan enak khas Jambi dan Sumaterah Barat Indonesia pakai santan. Gurih, kental, dan bikin nagih.
Tapi di balik gurihnya itu, santan menyimpan “jebakan” jika kita konsumsi berlebihan, apalagi setiap hari.
Santan bukanlah musuh. Santan adalah teman yang baik jika kenal porsinya, tapi bisa jadi lawan jika kebanyakan.
Berikut 5 Dampak Buruk Jika Makan Santan Berlebihan:
- Kolesterol dan Jantung Jadi Taruhannya
Ini yang paling utama. Santan mengandung Lemak Jenuh yang sangat tinggi. Dalam 100 ml santan kental, lemak jenuhnya bisa mencapai 90% dari kebutuhan harian kita.
Jika setiap hari makan gulai kental, lemak jenuh ini akan menumpuk di pembuluh darah. Lama-lama pembuluh darah menyempit, darah susah mengalir. Inilah awal dari kolesterol tinggi, darah tinggi, hingga serangan jantung dan stroke.
2 Berat Badan Naik Tanpa Disadari
Santan itu kalorinya tinggi, 1 sendok makan santan kental = 30-50 kalori. Satu piring gulai bisa pakai 5-10 sendok santan.
Kalori ini kalau tidak dibakar dengan aktivitas, akan disimpan tubuh jadi lemak. Pantas saja, habis lebaran makan opor dan rendang terus, timbangan naik 2-3 kilo.
- Pencernaan Terganggu: Kembung dan Diare
Bagi sebagian orang, santan sulit dicerna. Lemaknya yang pekat membuat lambung bekerja ekstra keras.
Akibatnya perut terasa begah, kembung, mual, dan sering sendawa setelah makan makanan bersantan. Pada orang yang sensitif, bisa langsung diare. Apalagi jika santannya sudah dipanaskan berulang-ulang.
- Risiko Asam Lambung Naik
Makanan bersantan tinggi lemak, dan makanan tinggi lemak memicu produksi asam lambung berlebihan. Katup lambung jadi lemah.
Bagi penderita maag dan GERD, makan gulai di malam hari adalah pantangan. Dada akan terasa panas, perih, dan sering bersendawa.
- Santan yang Dipanaskan Berulang Kali Jadi Racun
Ini kebiasaan ibu-ibu di rumah: gulai pagi dipanaskan siang, dipanaskan lagi sore, dipanaskan lagi besok.
Santan yang dipanaskan berulang kali akan teroksidasi. Lemak baiknya berubah menjadi lemak jahat (lemak trans) dan radikal bebas. Inilah yang paling berbahaya untuk hati dan bisa memicu peradangan dalam tubuh.
LALU, BAGAIMANA SOLUSINYA? BUKAN BERHENTI MAKAN SANTAN.
Kita orang Jambi, tidak mungkin tidak makan tempoyak gulai. Kuncinya bukan STOP, tapi ATUR:
- Atur Porsi: Jangan banjiri piring dengan kuah santan. Cukup 2-3 sendok kuah saja untuk rasa gurih.
- Atur Frekuensi: Jangan setiap hari. Makan bersantan cukup 2-3 kali seminggu saja, jangan 3 kali sehari.
- Pilih Santan Encer: Untuk masakan sehari-hari, pakai santan encer saja. Rasa gurih masih ada, lemaknya jauh lebih rendah.
- Jangan Panaskan Berulang: Masak santan secukupnya untuk sekali makan. Jika sisa, simpan di kulkas, jangan dipanaskan terus menerus.
- Imbangi: Setelah makan bersantan, imbangi dengan banyak sayur, buah, dan minum air putih hangat. Dan jangan lupa bergerak.
Santan dari pohon kelapa adalah rezeki dari alam Indonesia. Nikmati gurihnya, tapi ingat porsinya. Karena sehat itu bukan dari pantangannya, tapi dari cara kita mengaturnya.(MM#).










