Qixiobuzz.com – New York. Jamuan malam identik dengan makan bersama keluarga besar di rumah, di New York, jamuan malam adalah sebuah tradisi gaya hidup yang disebut Supper Club.
Apa itu Supper Club? Ini adalah tradisi jamuan malam ala New York sejak era 1920-an, yang menggabungkan tiga hal sekaligus: Makan Malam Mewah + Pertunjukan Live + Dansa.
Tradisi ini lahir di masa pelarangan alkohol (Prohibition Era). Orang-orang New York bosan. Mereka ingin tempat di mana bisa makan enak, minum koktail secara diam-diam, dan menonton jazz secara langsung. Lahirlah klub-klub legendaris seperti Cotton Club di Harlem.
Hingga kini, tradisi itu tidak mati, justru berevolusi menjadi 3 gaya jamuan malam khas New York:
Supper Club Teatrikal – Paradise Club Times Square
Di jantung Times Square, ada Paradise Club. Di sini Anda tidak hanya datang untuk makan. Saat masuk, Anda akan diberi tanda dewi bulan sesuai tanggal lahir. Selama makan malam 3 hidangan, Anda akan dikelilingi penari, penyanyi, dan pertunjukan imersif. Anda bukan penonton, Anda bagian dari cerita. Malam ini bisa menghabiskan 100-150 dolar AS per orang.
Dinner Cruise di Sungai Hudson – Makan Sambil Keliling Patung Liberty
Ini yang paling populer bagi turis. Jamuan malam dilakukan di atas kapal pesiar mewah Eternity atau Louisa.
Konsepnya: makan malam adiboga 5 hidangan (5-course fine dining) yang dimasak langsung oleh chef, sambil kapal berlayar pelan melewati Patung Liberty, Jembatan Brooklyn, dan Empire State Building yang menyala.
Sambil makan, ada band jazz live, DJ, dan dek terbuka untuk berdansa. Pelayaran biasanya 3 jam, dari jam 7 sampai 10 malam. Harga mulai 150 dolar AS dengan jaminan meja di pinggir jendela.
Speakeasy Dinner – Makan Malam Rahasia ala Gangster
Tradisi paling New York: makan malam di bar rahasia. Tidak ada plang. Pintunya seperti pintu kulkas atau toko buku. Di dalamnya, Anda harus pakai jas dan gaun formal, minum koktail klasik, dan mendengarkan kisah mafia Hell’s Kitchen tahun 1920-an.
Tur seperti ini disebut “Glamour and Gangster Tour” yang sangat laku di Manhattan.
Kenapa Tradisi Ini Bertahan?
Bagi warga New York, yang disebut “The City That Never Sleeps” atau Kota yang Tak Pernah Tidur, makan malam bukan untuk kenyang. Makan malam adalah panggung untuk bertemu teman baru, merayakan sesuatu, dan melihat pertunjukan.
Jika di Indonesia kita punya tradisi “makan basamo” yang menekankan kebersamaan, di New York, tradisi jamuan malam menekankan pada pengalaman dan pertunjukan.
Sebuah tradisi yang mengubah makan malam, dari sekadar kebutuhan perut, menjadi sebuah memori yang tak terlupakan.(MM#).










