Qixiobuzz.com – Jakarta. Perang tarif antara Amerika Serikat dan Kanada yang memanas justru membuka peluang emas bagi Indonesia. Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) mendorong pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk jeli melihat celah pasar ini.
Ketua Umum KADIN Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, menyebut konflik tarif kedua negara adidaya itu menciptakan kekosongan pasok yang bisa diisi produk Indonesia.
Di saat AS mengenakan tarif tinggi hingga puluhan persen ke Kanada dan sebaliknya, produk Indonesia justru mendapat perlakuan istimewa.
Dua Perjanjian Kunci: Tarif 0% dari AS dan Kanada
Anindya menjelaskan, Indonesia saat ini memegang dua kartu truf:
- Kesepakatan dengan AS – Tarif Resiprokal 19% yang Kompetitif + 0% untuk Produk Tertentu
Dalam Agreement on Reciprocal Trade (ART) dengan AS, Indonesia mendapat tarif resiprokal 19% yang dinilai kompetitif dibanding Vietnam dan China. Bahkan untuk produk yang menggunakan komponen asal AS, bisa mendapat *pembebasan tarif hingga 0%.
Produk seperti minyak sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, karet, hingga komponen elektronik berpeluang masuk AS dengan tarif 0%.
“Yang paling penting, bagaimana pengusaha-pengusaha bisa memanfaatkan ini untuk bisa mendapatkan nilai tambah,” ujar Anindya dalam retret KADIN di Lemhannas, 1 Agustus 2025.
- ICA-CEPA dengan Kanada – 90,5% Tarif Dihapus
Sementara dengan Kanada, Indonesia baru saja menandatangani Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA-CEPA) pada 24 September 2025 di Ottawa, disaksikan Presiden Prabowo Subianto dan PM Kanada Mark Carney.
Dalam perjanjian itu, Kanada berkomitmen menghapus 90,5% tarif impor untuk produk Indonesia*, sementara Indonesia meliberalisasi 85,8% pos tarif.
Artinya, produk garmen, tekstil, alas kaki, furnitur, dan makanan olahan UMKM bisa masuk Kanada hampir tanpa bea.
Peluang UMKM Isi Kekosongan Pasar
KADIN menilai, ketika AS menaikkan tarif impor dari Kanada untuk produk kayu, mebel, dan migas, dan Kanada membalas tarif untuk produk pertanian AS seperti kedelai, gandum, dan gula, maka Indonesia bisa menjadi pemasok alternatif.
“UMKM dapat berperan dalam mendukung program ekspor, khususnya di sektor garmen, tekstil, alas kaki, furniture, dan elektronik. Sektor-sektor ini tidak hanya didominasi perusahaan besar, sehingga UMKM memiliki peluang besar,” kata Anindya.
Strategi yang didorong KADIN adalah *Kontainer Konsolidasi*. KADIN bersama Bea Cukai seperti di Dumai dan Bengkalis telah menyiapkan skema di mana produk dari banyak UMKM digabungkan dalam satu kontainer, sehingga UMKM tidak perlu menunggu volume besar untuk ekspor.
Jangan Hanya Jadi Pasar, Tapi Olah dan Ekspor Lagi
Anindya juga mengingatkan, tarif 0% impor bahan baku dari AS seperti gandum, kapas, dan kedelai jangan membuat UMKM mati, tapi harus diolah kembali dan diekspor ke AS.
“Jadi sebenarnya oke-oke saja tarif impor 0 persen, yang tidak boleh terjadi adalah impor yang ilegal,” tegasnya.
KADIN juga menegaskan, standar Halal tetap wajib dipatuhi produk AS yang masuk, sehingga UMKM lokal yang sudah bersertifikat halal justru punya keunggulan.
Dengan 99% unit usaha di Indonesia adalah UMKM yang menyerap 97% tenaga kerja, perang tarif AS-Kanada jika dimanfaatkan dengan cerdas bisa menjadi momentum UMKM naik kelas dan go global.(MM#).










