Qixiobuzz.com – LONDON / YERUSALEM. Hubungan Inggris-Israel memanas setelah Pemerintah Inggris mengumumkan sanksi baru terhadap produk dari permukiman Israel di Tepi Barat, 8/9/ 2026. Langkah London langsung dibalas Tel Aviv dengan menutup Konsulat Inggris di Yerusalem Timur dan melarang masuk sejumlah politisi Inggris.
Inggris: “Berdiri Melawan Ketidakadilan”
Perdana Menteri Inggris Andy Burnham menyebut sanksi ini sebagai bentuk nyata dukungan Inggris terhadap solusi dua negara.
“Kepemimpinan adalah mengambil tindakan ketika ada ketidakadilan, ketika orang-orang diusir dari rumah mereka,” ujar Burnham di Parlemen.
Menteri Luar Negeri Ed Miliband mengumumkan larangan impor barang dari permukiman di Tepi Barat, serta sanksi terhadap perusahaan dan individu yang terlibat dalam ekspansi permukiman. Ia bahkan menyebut ada *”pembersihan etnis”* oleh pemukim terhadap warga Palestina di Tepi Barat.
Inggris bertindak bersama Prancis, Kanada dan 9 negara Eropa lainnya dalam koordinasi sanksi ini.
Tel Aviv Meradang: Konsulat Ditutup, Diplomat Diusir
Israel merespons keras. Menlu Gideon Sa’ar menyebut keputusan Inggris “keputusan politik absurd” dan “campur tangan terang-terangan” dalam urusan kedaulatan Israel.
Langkah balasan Israel:
- Menutup Konsulat Inggris di Yerusalem Timur dalam 30 hari. Konsulat ini selama ini mewakili Inggris untuk Palestina di Yerusalem, Tepi Barat, dan Gaza.
- Melarang 12 politisi Inggris masuk Israel, termasuk Jeremy Corbyn dan Diane Abbott.
- Mengusir tim Inggris yang melatih pasukan keamanan Otoritas Palestina di Ramallah.
- Mengeluarkan diplomat Inggris dari pusat koordinasi Gaza di Kiryat Gat.
“Pesan kepada pemerintah mana pun yang menyakiti kami jelas: siapa pun yang bertindak melawan Israel, Israel akan bertindak melawan mereka,” tegas Sa’ar.
Dampak dan Reaksi
Sanksi Inggris menargetkan produk pertanian permukiman seperti kurma, jeruk, dan anggur yang nilainya kecil bagi total ekspor Israel. Namun secara politik langkah ini dianggap salah satu perubahan kebijakan terbesar Inggris terhadap Israel dalam bertahun-tahun.
Reaksi di Inggris terbelah. Chief Rabbi Sir Ephraim Mirvis menyebutnya “hari kelam bagi Yahudi Inggris”. Sementara Presiden Palestina menyambut sanksi sebagai langkah penting melawan “sistem kolonial” Israel.
AS menyatakan tidak akan mengikuti langkah Inggris. Menlu AS Marco Rubio menyebut sanksi bisa destabilisasi Tepi Barat.
Hingga kini Israel belum mengumumkan tindakan balasan serupa terhadap Prancis dan Kanada.( MM# )










