Qixiobuzz.com, SIJUNJUNG – Pewaris Kerajaan Alam Djamboe Lipo Daulat Yang Di pertuan, Tuanku Rajo Godang Firman Bgd Tan Ame Rajo Alam Jambu Lipo, menggelar acara adat Pelepasan Resmi Rajo Manjalani Rantau dan Penganugerahan Gelar Adat Kekerabatan kepada kerabat dari Malaysia. Acara sakral tersebut berlangsung di Istana Kelambu Suto, Lubuk Tarok, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, pada 20 Agustus 2026.
Kerabat Kerajaan Perak Malaysia Hadiri Prosesi Adat
Turut hadir dalam acara ini rombongan Keluarga Besar Kerajaan Perak Malaysia. Kehadiran mereka, selain menjadi bagian dari rangkaian acara, juga menjadi simbol penguatan hubungan kekerabatan lintas negara antara Minangkabau dan Melayu di Malaysia. Selain itu, hadir juga anak keturunan Kesultanan Jambi, Ratumas Arlena Ayu selaku Ketua Yayasan Raden Hamzah Putra Pangeran Ojoet beserta suami, Raden Hadi Ujang.
Sementara itu, dari perwakilan masyarakat adat, hadir Temenggung Yusup atau Temenggung Payung Bulan yang mewakili Suku Anak Dalam. Di samping itu, sejumlah pejabat Pemerintah Daerah Kabupaten Sijunjung juga tampak hadir untuk menyaksikan secara langsung prosesi adat tersebut.
Pelepasan Rajo Manjalani Rantau Sarat Makna
Dalam sambutannya, Tuanku Rajo Godang Firman Bgd Tan Ame Rajo Alam Jambu Lipo menyampaikan bahwa acara ini memiliki dua makna penting. Pertama, Pelepasan Resmi Rajo Manjalani Rantau merupakan bentuk restu dan doa kepada anak kemenakan yang akan merantau untuk mencari ilmu dan penghidupan. Hal tersebut sejalan dengan falsafah Minangkabau, “alam takambang jadi guru”.
Dengan demikian, tradisi tersebut bukan sekadar seremoni adat. Sebaliknya, kegiatan ini juga mengandung pesan moral agar generasi muda berani menuntut ilmu, mencari pengalaman, serta membangun kehidupan di rantau dengan tetap membawa nilai-nilai adat dan budaya.
Gelar Adat untuk Pererat Kekerabatan dengan Malaysia
Selanjutnya, makna kedua adalah Penganugerahan Gelar Adat Kekerabatan kepada kerabat dari Malaysia. Pemberian gelar tersebut menjadi wujud untuk mempererat tali silaturahmi sekaligus menjalin kembali sejarah panjang hubungan persaudaraan antara Kerajaan Alam Djamboe Lipo Daulat dengan kerajaan-kerajaan di Nusantara dan di luar negeri. Dengan adanya penganugerahan tersebut, hubungan yang telah terjalin di harapkan semakin kuat. Selain itu, hubungan kekerabatan lintas negara ini juga dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan serta melestarikan nilai-nilai budaya Minangkabau dan Melayu.
“Melalui acara ini kita ingin menegaskan bahwa adat dan kekerabatan adalah jembatan pemersatu. Dengan adanya anugerah gelar adat ini, kita berharap hubungan kekeluargaan dengan Kerabat Malaysia dan seluruh anak nagari semakin kokoh untuk bersama-sama menjaga adat, budaya, dan nagari,” ujar Tuanku Rajo Godang.
Prosesi Adat Berlangsung Khidmat
Selanjutnya, prosesi adat berlangsung secara khidmat dengan di iringi pembacaan silsilah, penyerahan selempang gelar, dan doa bersama oleh para pemuka adat. Selain menjadi bagian penting dari prosesi, pembacaan silsilah juga menunjukkan adanya kesinambungan sejarah dan hubungan kekerabatan yang terus di jaga. Oleh karena itu, rangkaian tersebut memiliki arti penting dalam mempertahankan nilai-nilai adat sekaligus memperkenalkan tradisi kepada generasi berikutnya.
Pemkab Sijunjung Apresiasi Pelestarian Budaya
Sementara itu, Pemerintah Daerah Kabupaten Sijunjung mengapresiasi kegiatan tersebut sebagai salah satu upaya pelestarian budaya dan penguatan diplomasi budaya. Lebih lanjut, kegiatan semacam ini di nilai dapat memberikan dampak positif bagi pengembangan pariwisata dan penguatan identitas daerah. Sebab, keberadaan tradisi dan kegiatan adat dapat menjadi daya tarik sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Sijunjung kepada masyarakat yang lebih luas.
Selain itu, kegiatan yang mempertemukan unsur kerajaan, masyarakat adat, pemerintah daerah, serta kerabat dari Malaysia tersebut menjadi momentum untuk memperkuat hubungan budaya dan kekerabatan.
Di tutup Makan Bajamba dan Kesenian Tradisional
Sebagai penutup, acara tersebut di akhiri dengan makan bajamba dan pertunjukan kesenian tradisional sebagai bentuk rasa syukur atas terjalinnya kembali ikatan kekerabatan. Tidak hanya itu, rangkaian kegiatan tersebut juga menjadi gambaran bahwa adat, budaya, dan hubungan kekerabatan masih memiliki peran penting dalam memperkuat persatuan masyarakat di tengah perkembangan zaman.
Dengan demikian, melalui pelaksanaan kegiatan adat ini, nilai-nilai kebersamaan, persaudaraan, dan penghormatan terhadap budaya di harapkan tetap terjaga. Pada akhirnya, tradisi tersebut tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi juga dapat terus hidup dan di wariskan kepada generasi mendatang.
( MM# )










