Qixiobuzz.com – JAMBI. Jika sejarah hanya mencatat pejuang di satu tempat, maka Raden Hamzah adalah pengecualian. Perjuangan beliau tidak terkotak di satu dusun, tidak berhenti di satu sungai. Sebagai Panglima Perang, pundak beliaulah yang memikul tanggung jawab pertahanan yang sangat luas: dari Huluan, Batanghari, Tembesi, Sarolangun, Merangin, Muaro Teboh,Muaro Bungo hingga batas Kerinci.
Ini adalah sebuah komando wilayah yang sangat besar untuk ukuran Jambi di awal abad ke-20. Beliau bukan hanya pemimpin pasukan, beliau adalah penjaga kedaulatan.
Muaro Bungo: Pertempuran Terberat dan Terbesar
Dari semua medan juang itu, Muaro Bungo menjadi titik paling berdarah. Mengapa?
Karena Muaro Bungo adalah jalur strategis, urat nadi pergerakan pasukan Belanda. Siapa yang menguasai Muaro Bungo, dia menguasai akses logistik dari Jambi menuju Sumatera Barat dan Kerinci. Belanda sangat paham itu.
Maka, Belanda mengerahkan kekuatan terbesarnya ke Muaro Bungo. Dan di sinilah Raden Hamzah mempertahankannya mati-matian. Ini bukan perang kecil. Ini adalah pertempuran terbesar yang pernah beliau pimpin – perang parit, perang hutan, perang yang berlangsung berhari-hari tanpa pasokan.
Dalam catatan lisan para tetua, pasukan Raden Hamzah bertahan di garis depan Muaro Bungo dengan persenjataan yang jauh dari seimbang. Belanda dengan senapan modern dan meriam, pasukan Raden Hamzah dengan semangat, dan sumpah untuk tidak mundur selangkah pun dari tanah negeri.
Gugur 2 Nopember 1906: Sumpah yang Tertunai
Puncak dari pertahanan itu terjadi pada 2 Nopember 1906. Di Muaro Bungo, Raden Hamzah gugur. Beliau tidak gugur karena lari. Beliau gugur di medan juang, di tengah pertempuran terberat yang beliau pertahankan sendiri hingga nafas terakhir.
Gugurnya beliau di Muaro Bungo adalah bukti, bahwa beliau menepati sumpahnya sebagai panglima: tidak akan meninggalkan tanah yang ia jaga.
Makam di Lubuk Mengkuang: Bukti Sejarah yang Hidup
Hari ini, bukti sejarah itu masih bisa kita lihat dan ziarahi. Makam Raden Hamzah yang berada di Dusun Tuo Lubuk Mengkuang bukan sekadar gundukan tanah.
Makam itu adalah prasasti. Ia adalah bukti otentik bahwa perjuangan beliau nyata, bahwa darah beliau tertumpah untuk membela dan mempertahankan tanah negeri Jambi. Bahwa ada seorang panglima yang wilayah juangnya membentang dari Huluan hingga Kerinci, dan memilih mengakhiri pengabdiannya di tanah strategis Muaro Bungo.
Jika kita hari ini bisa berdiri tegak di Bungo, itu karena dahulu ada penjaga kedaulatan mempertahankannya.
Tugas kita sekarang adalah menjaga ceritanya agar tidak ikut terkubur.(MM#)










