Qixiobuzz.com – Mengenal Kehidupan dan Adat Suku Anak Dalam Jambi.
Di kedalaman hutan Taman Nasional Bukit Duabelas dan Hutan Harapan, Jambi,ada komunitas yang menyebut dirinya Orang Rimba.Orang luar memanggil mereka Suku Anak Dalam. Bagi mereka hutan bukan sekedar tempat tinggal. Hutan adalah ibu, apotek, pasar, dan masjid.Disinilah hukum adat dijaga,lebih kuat dari hukum negara.
- Asal Usul : Suku Anak Dalam diyakini sebagai keturunan prajurit kerjaan Tapak lebar yang masuk di hutan belantara ratusan tahun lalu. Kini mereka tersebar 5 Kabupaten: Batanghari, Sarolangun, Merangin,Muaro Tebo,Muaro Bungo. Jumlah mereka 10 ribu jiwa, terbagi dalam kelompok-kelompok kecil bernama Rombong.Tiap Rombong dipimpin Temenggung.
- Sistem kepercayaan : Agama Leluhur.Suku Anak Dalam punya kepercayaan sendiri yang menyatu dengan alam.Mereka percaya pada Dewa dan Roh nenek moyang Hutan, sungai,dan pohon besar punya” penunggu” karena itu bagi mereka menebang pohon sembarangan adalah dosa.Upacara besale digelar untuk mengobati yang sakit atau tolak bala, dipimpin dukun dengan tari dan mantra semalam suntuk.
- Aturan Adat yang ketat : Seloko hidup Suku Anak Dalam diatur seloko, yaitu hukum adat, lisan yang diwariskan turun temurun. Contoh seloko penting.
- Melangun : Jika ada anggota keluarga yang sakit atau meninggal sebagian, menunggu, sebagian rombongan wajib pinda,.Tujuanya menghindari dari kesedihan dari roh yang mati.
- Bebala : Denda adat. Mencuri, zina, atau menebang pohon bisa kena denda Uang atau diganti kain sejumlah nilai denda Adat tersebut.
- Besabat : Hubungan dengan Orang luar, dulu orang luar dianggap “ pembawa penyakit “ sekarang sudah mulai terbuka, tapi tetap hati-hati.
- Mata pencarian : Meramu dan berburu.Suku Anak Dalam hidup semi
nomade. Mereka meramu umbi, buah, madu sialang, dan damar.
Berburu babi, rusa. napuh dengan sumpit dan tombak. Sebagian
rombongan sudah mulai nyandung, yaitu berkebun karet kiecil kecilan
di pinggir hutan. Uang dipakai beli garam, tembakau, dan kain.
Tapi beras masih dianggap makanan orang luar. Makanan pokok tetap ubi dan gadung.Namun skarang beras menjadi kebutuhan pokok.
- Rumah dan Pakaian :Rumah mereka disebut sudung, panggung kecil dari kulit dan atap daun sederhana. Mudah dibongkar saat melangun, pakaian tradisional laki-laki hanya cawat, perempuan pakai kain tataan. Sekarang banyak yang sudah pakai baju kaos pemberian,dan membeli sendiri tapi saat upacara adat tetap pakai cawat.
- Tantangan Hari ini : Hutan tempat hidup mereka makin sempit karena sawit, dan tambang, sekian hektar wilayah adat, akibatnya :
- Sumber pangan hilang : Sulit berburu dan cari damar.
- Konflik :Sering bentrok dengan petugas perusahaan.
- kesehatan : Penyakit dari luar seperti ISPAdan diare masuk.
- Pendidikan : Angka buta huruf masih tinggi
- Upaya Bertahan : Bebrapa Temenggung seperti mulai membuka
diri, agar anak-anak dikirim sekolah Rimba yang didirikan
aktivitis dari Jambi. Mereka belajar baca tulis tanpa harus
meninggalkan adat.
Suku Anak Dalam tidak anti pembangunan kata temenggung “ kami mau sekolah, mau sehat, tapi jangan ambil hutan kami, kalu hutan habis , habis juga kehidupan kami “ Seloko mereka sederhana “ Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Tapi bumi kami hutan, langit kami pohon.
MM#








