Qixiobuzz.com – Jambi. Kabar gembira bagi petani nilam. Harga tanaman nilam yang sempat anjlok kini kembali meroket tajam di berbagai daerah di Indonesia.
Jika 2 tahun lalu minyak nilam hanya dihargai Rp 350 ribu sampai Rp 400 ribu per kilogram, kini harganya melambung hingga Rp 850 ribu sampai Rp 1,1 juta per kilogram.
Bahkan di beberapa daerah, harganya lebih tinggi:
ACEH: Rp 850.000 / Kg
Kepala Atsiri Research Center (ARC) Universitas Syiah Kuala, Syaifullah Muhammad, menyebut harga minyak nilam Aceh saat ini stabil di Rp 850 ribu per kg. Diprediksi akhir tahun 2026 bisa tembus Rp 1 juta sampai Rp 1,5 juta per kg mengikuti pola musiman.
GAYO LUES & LUWU: Rp 1,1 – 1,3 Juta / Kg
Di Kabupaten Gayo Lues Aceh, menjelang Idul Adha 2026, harga tembus *Rp 1,1 juta per kg*. Sementara di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, pedagang membeli dengan harga Rp 900 ribu hingga Rp 1,3 juta per kg.
MINAHASA & MAROS: Rp 750 ribu – Rp 1 Juta / Kg
Di Minahasa Sulut, harga naik dari Natal 2025 dan kini Rp 730-750 ribu per kg. Di Maros Sulsel, harga rata-rata Rp 1 juta per kg.
Kenapa Mahal?
Minyak nilam atau _patchouli oil_ adalah emas hijau Indonesia. Indonesia memasok *90% kebutuhan minyak nilam dunia.
– Dunia butuh 1.200 – 1.400 ton per tahun, tapi produksi baru 1.000 ton.
– Nilam adalah bahan pengikat (fiksatif) terbaik untuk parfum kelas dunia seperti Chanel, Dior, Gucci. Aromanya tidak mudah hilang.
– Sebelum Covid harga hanya Rp 100 ribu/kg, kini naik 13 kali lipat karena stok menipis dan lahan tanam tidak bertambah.
Menurut KNEKS (Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah), lonjakan harga belum diimbangi penambahan lahan, sehingga harga di pasar riil bergerak sangat cepat.
Harga di Tingkat Petani:
– Bibit: Rp 35.000 per polybag
– Daun nilam kering: Rp 25.000 – Rp 90.000 per kg di e-commerce
– *Daun basah dari petani: petani memanen 1 pohon bisa menghasilkan 1 kg daun, ditanam 25.000 pohon per hektar, bisa panen tiap 4 bulan.
Artinya, satu hektar bisa hasilkan 25 ton daun. Jika 25 ton daun kering disuling jadi sekitar 500-600 kg minyak, dikali Rp 850 ribu, hasilnya bisa Rp 400-500 juta per panen!
Tak heran banyak petani di Aceh, Jambi, dan Sulawesi yang kini kembali beralih dari sawit ke nilam.
Pemerintah Aceh bahkan mendorong nilam masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) dan menjadikan Banda Aceh sebagai “Kota Parfum” dunia.
Bagi warga Jambi, khususnya yang tanahnya subur, budidaya nilam bisa jadi alternatif ekonomi hijau yang menjanjikan.(MM#).










