Qixiobuzz.com – OGAN KOMERING ILIR. Kabar baik datang dari jantung kebakaran hutan dan lahan (karhutla) Sumatera Selatan. Lokasi konservasi gajah terdekat dengan area karhutla, yaitu Pusat Konservasi Gajah (PKG) Jalur 21 di Suaka Margasatwa (SM) Padang Sugihan, kini dinyatakan aman dan kondusif usai hujan lokal yang turun di wilayah Sumsel.
Seluruh 29 ekor gajah Sumatra binaan yang ada di pusat konservasi tersebut dilaporkan berada dalam kondisi sehat, termasuk seekor anak gajah betina yang baru lahir pada 17 Agustus 2026 lalu.
Api Pernah Dekati 1 Kilometer
Suaka Margasatwa Padang Sugihan yang terbentang seluas 88.000 hektare di Kabupaten Banyuasin dan Ogan Komering Ilir ini merupakan salah satu kantong habitat terpenting bagi Gajah Sumatra di Indonesia.
Sejak akhir Agustus 2026, kawasan ini dilanda karhutla yang telah menghanguskan sekitar 2.300 hektare lahan gambut. Angin kencang membuat api cepat menyebar dan sempat mendekati area konservasi.
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumsel, Daniwari Widiyanto, mengungkapkan jarak api sempat hanya sekitar 1 kilometer dari PKG Jalur 21.
“Api semakin mendekati hampir 1 kilometer ke arah PKG Jalur 21 Padang Sugihan. Karenanya, PKG menjadi prioritas dalam penanganan karhutla di Suaka Margasatwa Padang Sugihan,” ujar Daniwari.
Untuk mengantisipasi api meluas, BKSDA menempatkan tujuh posko siaga di sekitar SM Padang Sugihan. Personel gabungan dari BKSDA, Manggala Agni, TNI, Polri, Satgas Darurat Bencana Sumsel, dan masyarakat berjaga 24 jam nonstop.
Dalam upaya darurat, 19 gajah dikumpulkan di satu area yang aman, sementara 10 lainnya dibiarkan di padang penggembalaan yang dinilai masih aman dari jangkauan api.
29 Gajah Sehat, Pakan Ditambah
Meski asap sempat menyelimuti kawasan, tim medis memastikan tidak ada satu pun gajah yang mengalami gangguan kesehatan.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni bahkan sempat meninjau langsung PKG Jalur 21 pada pertengahan September lalu. Ia melihat langsung kondisi 29 gajah binaan dan memastikan semuanya baik-baik saja.
Karena beberapa area penggembalaan sempat terbakar, petugas menambah pasokan pakan utama berserat seperti pelepah pisang dan pelepah kelapa, serta nutrisi tambahan berupa buah-buahan, bubur gajah, dan obat-obatan sesuai rekomendasi tim medis.
Setiap hari, kondisi gajah dikontrol oleh masing-masing _mahout_ (pawang) dari pagi hingga malam, didampingi dokter hewan di posko kesehatan.
Hujan Jadi Penolong, Kabut Asap Berangsur Hilang
Titik terang muncul setelah hujan lokal turun di wilayah Sumsel. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya memprediksi peluang hujan lokal pada 18-20 September di Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah.
Hujan tersebut membantu proses pendinginan lahan gambut yang masih berasap dan mempercepat pemadaman. Kualitas udara yang sebelumnya sempat masuk kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat, dilaporkan mulai membaik. Asap yang sempat mengganggu jarak pandang di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang juga berangsur menghilang.
Gubernur Sumsel*Herman Deru juga sempat meninjau langsung titik pemadaman lahan gambut yang terbakar di Padang Sugihan, sekitar 7 km dari PKG, dan menyaksikan langsung gajah-gajah yang diangon mahout untuk makan.
Ancaman Serius Bagi Habitat Gajah Sumatra
Meski kondisi PKG kini aman, para pegiat lingkungan mengingatkan bahwa ancaman karhutla terhadap gajah Sumatra sangat serius.
Data pemantauan menunjukkan pada Agustus 2026 saja, luas habitat gajah yang terdampak karhutla mencapai 382.779 hektare. Pada 1 hingga 8 September, tambahan 177.979 hektare dari total 21 kantong habitat gajah sumatera yang dirujuk dalam Inpres Nomor 8 Tahun 2026.
Di Sumatera Selatan sendiri terdapat enam kantong habitat seluas 1.594.413 hektare dengan total populasi 234 individu gajah liar per 2025. Kantong terluas, Sugihan-Simpang Heran, dihuni sekitar 142 individu.
Secara nasional, populasi gajah Sumatra terus merosot. Dari 4.800 individu pada era 1980-an, kini tersisa hanya 1.648 individu pada 2025. Luas habitatnya pun menyusut dari 5,4 juta hektare menjadi hanya 1,5 juta hektare.
Kebakaran kali ini juga telah memakan korban satwa lain. BKSDA mencatat tiga individu tenggiling mati terbakar, sementara sejumlah reptil seperti ular dan kura-kura juga ditemukan menjadi korban.
Pemerintah Kerahkan 53 Armada Udara
Untuk memadamkan api, pemerintah mengerahkan kekuatan besar. Sebanyak 53 unit armada udara disiagakan, terdiri dari 34 armada _water bombing_ dan 19 armada patroli udara untuk mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Dukungan udara juga diperkuat tiga helikopter CH-47 Chinook dari Jepang.
Presiden sendiri dalam rapat terbatas pada 16 September 2026 meminta jajaran pemerintah mempertahankan kesiapsiagaan dan memperkuat koordinasi menghadapi ancaman karhutla yang diperkirakan masih rawan beberapa pekan ke depan.
Kini, dengan hujan yang turun dan api yang mulai terkendali, harapan kembali muncul. PKG Jalur 21 yang menjadi rumah terakhir bagi gajah-gajah Sumatra binaan itu bisa kembali tenang, dan para mahout bisa kembali mengangon gajah-gajahnya tanpa rasa takut.(MM#).










