Qixiobuzz.com – Kabupaten Barito Kuala (Batola), Kalimantan Selatan, kembali berubah menguning pada Minggu (25/10) hingga Senin pagi ini. Fenomena langka dan mencekam itu bukan efek cuaca biasa, melainkan akibat tertutupnya langit oleh *kabut asap pekat sisa Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).
Warna kuning kecoklatan yang menyelimuti cakrawala membuat jarak pandang terbatas dan warga mengeluhkan sesak serta mata perih, terutama pada pagi hari saat kabut paling tebal.
Barito Kuala Jadi Salah Satu Lumbung Api Terbesar di Kalsel
Berdasarkan data terbaru BPBD Kalsel, karhutla di Kalimantan Selatan sepanjang 1 Januari hingga 25 Oktober 2026 tercatat mencapai 5.550 kejadian dengan total luas lahan terdampak 28.775,45 hektare dan 53.708 titik panas (hotspot).
Barito Kuala sendiri mencatatkan 526 kejadian dengan luas lahan terdampak 3.450,72 hektare
Kabupaten ini menjadi salah satu wilayah paling terdampak setelah Banjar (7.328,5 hektare), Hulu Sungai Selatan (4.301,59 hektare), dan Tanah Laut (3.762,61 hektare).
Kondisi ini diperparah oleh lahan gambut yang kering. Api yang membakar gambut sulit dipadamkan karena bara bisa bertahan di bawah permukaan dan mudah menyala kembali.
Asap Kuning Pekat Kepung Permukiman dan Kampus
Pekan lalu, asap tebal berwarna kekuningan sudah lebih dulu mengepung kawasan Universitas Islam Kalimantan (Uniska) di Handil Bakti, Kecamatan Alalak. Asap pekat tersebut membuat proses pembelajaran terganggu dan warga di sekitar Semangat Bakti harus mengungsi karena dua rumah ikut terbakar.
Kondisi serupa juga terlihat di sepanjang Jalan Gubernur Syarkawi, Desa Terantang, Kecamatan Mandastana. Kabut asap yang sangat tebal membuat jarak pandang minim hingga memicu kecelakaan beruntun 3 mobil*, Minggu (11/10/2026). Beruntung tidak ada korban jiwa, namun seluruh kendaraan mengalami kerusakan parah.
Warga mengaku cemas. “Kenapa bisa sekuning ini, tebal sekali asapnya,” ujar seorang warga yang dikutip dari fenomena serupa di wilayah Barito, menggambarkan kepanikan yang sama juga dirasakan warga Batola.
Kualitas Udara Berbahaya, Relawan Gugur
Dampak kesehatan mulai terasa. Data pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Stasiun Kayu Tangi, Banjarmasin, pada 20 Oktober lalu mencatat parameter PM2.5 mencapai angka 691. Angka tersebut masuk kategori sangat berbahaya karena partikel halus itu dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan.
Secara nasional, Kementerian Kesehatan mencatat 306.309 kasus ISPA akibat asap karhutla per 18 Oktober 2026, di mana *69.015 di antaranya adalah balita usia 0-5 tahun.
Tragedi juga menimpa para pejuang di garis depan. Seorang relawan pemadam kebakaran asal Banjarmasin, Nurdin alias Amang Udin (50), meninggal dunia saat bertugas memadamkan karhutla di Handil Bakti, Barito Kuala, Rabu (21/10/2026). Korban mengeluhkan sesak napas dan nyeri dada di tengah kepungan asap pekat sebelum akhirnya tidak tertolong.
Imbauan: Kurangi Aktivitas Luar, Gunakan Masker
Pemerintah Kabupaten Barito Kuala bersama BPBD, TNI-Polri, dan relawan masih berjibaku melakukan pemadaman di sejumlah titik, termasuk di Handil Bakti Indah, belakang Uniska, dan Perumahan Abdi Persada Baru.
BPBD Kalsel dan Dinas Lingkungan Hidup mengimbau masyarakat untuk:
– Mengurangi aktivitas fisik berat di luar ruangan
– Menggunakan masker saat beraktivitas
– Menyalakan lampu utama / fog lamp saat berkendara karena jarak pandang rendah
– Tidak membuka lahan dengan cara membakar
Hingga berita ini diturunkan, asap kiriman dari titik api di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, hingga Kalimantan Timur masih terbawa angin dan membuat langit di Barito Kuala dan sekitarnya, termasuk Banjarmasin, tetap diselimuti kabut kekuningan.
Pemkab Batola meminta warga, terutama anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita asma, untuk lebih waspada dan segera berobat ke fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami sesak atau batuk berkepanjangan.(MM#).










