Gaji Guru Honorer Jadi PPPK Terancam? FSGI Minta Pemerintah Beri Jaminan Penuh

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 15 Mei 2026 - 13:31 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA,JS- Nasib guru honorer kembali menjadi perhatian publik setelah Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) meminta pemerintah menjamin pembayaran gaji bagi tenaga pendidik yang diangkat menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Desakan tersebut muncul karena banyak guru mulai khawatir terhadap kesiapan anggaran daerah dalam membayar hak para PPPK baru.

Isu gaji guru honorer dan pengangkatan PPPK 2026 langsung menjadi sorotan masyarakat. Selain menyangkut kesejahteraan tenaga pendidik, kebijakan ini juga berkaitan dengan kualitas pendidikan nasional, stabilitas ekonomi keluarga guru, hingga masa depan pendidikan Indonesia.

FSGI menilai pemerintah tidak cukup hanya mengangkat guru honorer menjadi PPPK. Pemerintah juga harus memastikan pembayaran gaji berlangsung tepat waktu tanpa hambatan administrasi maupun kendala fiskal daerah.

Di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil, keterlambatan gaji berpotensi memicu masalah sosial baru. Banyak guru honorer selama ini bergantung penuh pada penghasilan bulanan untuk memenuhi kebutuhan hidup, membayar cicilan rumah, biaya sekolah anak, hingga kebutuhan kesehatan keluarga.

Pengangkatan PPPK Dinilai Belum Menjawab Semua Masalah Guru Honorer

Program PPPK memang memberi harapan besar bagi jutaan guru honorer di Indonesia. Status baru tersebut membuka peluang mendapatkan penghasilan lebih layak, tunjangan, hingga perlindungan kerja yang lebih jelas.

Namun di lapangan, banyak tenaga pendidik masih menyimpan kekhawatiran. Mereka takut pengangkatan PPPK hanya menjadi solusi administratif tanpa jaminan kesejahteraan yang benar-benar stabil.

FSGI melihat sejumlah daerah masih menghadapi keterbatasan anggaran. Situasi itu memunculkan risiko keterlambatan pembayaran gaji PPPK, terutama di wilayah dengan pendapatan asli daerah rendah.

Baca Juga :  Kabar Baik Honorer 2026, Insentif PPPK Paruh Waktu Diusulkan Naik

Selain itu, beberapa guru honorer juga mengaku bingung terkait mekanisme pembayaran setelah resmi menjadi PPPK. Banyak tenaga pendidik mempertanyakan apakah gaji akan langsung cair setiap bulan atau justru mengalami proses panjang seperti sebelumnya.

Kondisi tersebut membuat isu “gaji guru honorer dijamin” menjadi keyword yang banyak dicari masyarakat di Google dalam beberapa hari terakhir.

FSGI Soroti Tanggung Jawab Pemerintah Pusat dan Daerah

FSGI meminta pemerintah pusat tidak melempar tanggung jawab sepenuhnya kepada pemerintah daerah. Organisasi tersebut menilai negara harus hadir secara nyata untuk memastikan kesejahteraan guru tetap terjamin.

Menurut FSGI, pemerintah pusat perlu menyiapkan skema anggaran yang lebih jelas dan terukur. Dengan begitu, daerah tidak kesulitan membayar gaji PPPK dalam jangka panjang.

Selain masalah gaji pokok, FSGI juga menyoroti pencairan tunjangan guru PPPK yang sering mengalami keterlambatan. Padahal, banyak tenaga pendidik mengandalkan tunjangan tersebut untuk menutup kebutuhan harian.

Di sisi lain, guru honorer berharap pemerintah mempercepat sinkronisasi data kepegawaian agar proses administrasi tidak menghambat pembayaran hak pegawai baru.

Guru Honorer Masih Menjadi Tulang Punggung Pendidikan

Selama bertahun-tahun, guru honorer menjadi bagian penting dalam sistem pendidikan nasional. Mereka mengajar di daerah terpencil, sekolah kekurangan tenaga pengajar, hingga wilayah dengan fasilitas terbatas.

Ironisnya, sebagian guru honorer masih menerima penghasilan jauh di bawah standar kebutuhan hidup layak. Bahkan ada tenaga pendidik yang hanya memperoleh honor ratusan ribu rupiah per bulan.

Karena itu, pengangkatan PPPK sebenarnya menjadi momentum besar untuk memperbaiki kesejahteraan guru secara nasional. Namun jika pembayaran gaji masih bermasalah, maka tujuan utama kebijakan tersebut bisa gagal tercapai.

Banyak pengamat pendidikan menilai kesejahteraan guru memiliki hubungan langsung dengan kualitas pembelajaran siswa. Guru yang hidup lebih sejahtera cenderung mampu mengajar dengan fokus, produktif, dan inovatif.

Seleksi PPPK 2026 Diprediksi Semakin Ketat

Pemerintah terus membuka formasi PPPK untuk memenuhi kebutuhan tenaga pendidik di berbagai daerah. Namun jumlah pelamar diperkirakan semakin meningkat pada 2026.

Persaingan ketat membuat banyak guru honorer mulai mempersiapkan diri sejak dini. Mereka aktif mengikuti pelatihan kompetensi, try out online, hingga belajar mandiri melalui platform digital pendidikan.

Baca Juga :  Guru Honorer Wajib Baca! SE Mendikdasmen 7/2026 Bisa Jadi Jalan Jadi PPPK

Meski demikian, sebagian guru berharap pemerintah tidak hanya fokus pada proses seleksi. Mereka juga meminta perhatian serius terhadap nasib peserta yang sudah lolos agar tidak mengalami persoalan kesejahteraan baru setelah diangkat.

Ekonomi Guru Jadi Sorotan di Tengah Kenaikan Biaya Hidup

Kenaikan harga kebutuhan pokok ikut memperberat kondisi ekonomi guru honorer. Banyak tenaga pendidik kini harus mencari penghasilan tambahan di luar jam mengajar.

Sebagian membuka usaha kecil, menjadi tutor privat, berjualan online, hingga memanfaatkan platform digital untuk menambah pemasukan keluarga.

Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa profesi guru masih menghadapi tantangan ekonomi serius. Karena itu, jaminan gaji PPPK menjadi isu penting yang menyangkut stabilitas kehidupan jutaan keluarga tenaga pendidik di Indonesia.

Selain berdampak pada sektor pendidikan, kebijakan PPPK juga berkaitan dengan isu ekonomi nasional, manajemen keuangan keluarga, hingga daya beli masyarakat daerah.

Pemerintah Diharapkan Bergerak Cepat

Desakan FSGI menjadi alarm penting bagi pemerintah agar segera memperkuat sistem pembayaran PPPK secara nasional. Guru honorer membutuhkan kepastian, bukan sekadar janji pengangkatan.

Jika pemerintah mampu menjamin pembayaran gaji tepat waktu, maka program PPPK bisa menjadi solusi besar untuk meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia.

Sebaliknya, jika persoalan anggaran terus muncul, maka kekhawatiran guru honorer akan semakin besar dan berpotensi memicu gelombang protes di berbagai daerah.

Saat ini publik menunggu langkah konkret pemerintah dalam memastikan kesejahteraan guru benar-benar menjadi prioritas nasional. Sebab di balik seluruh kebijakan pendidikan, terdapat jutaan tenaga pendidik yang menggantungkan masa depan hidup mereka pada kepastian tersebut.(*)

Berita Terkait

Bola yang Dipakai di Kejuaraan Piala Dunia FIFA World Cup Ternyata Dibuat di Indonesia
BM Diah wartawan, pendiri Harian Merdeka pernah menyimpan Teks Proklamasi Asli Tulisan Tangan Soekarno Selama 47 Tahun
Petugas Pengibar Bendera dan Pembawa Baki HUT ke-81 RI di Istana Negara
Sejumlah Kepala Daerah di Wilayah Regional Sumatera, menerima Apresiasi Penghargaan Dari Kementerian Dalam Negeri
Jembatan Ampera Palembang: Ikon Sumsel.
Masjid Istiqlal: Masjid Terbesar di Asia Tenggara Karya Anak Bangsa Friedrich Silaban
Rohana Kudus, Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia dari Nagari Koto Gadang
Pers Pertama di Indonesia Courant Dimulai dari Padang Tahun 1859
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 15:24 WIB

Bola yang Dipakai di Kejuaraan Piala Dunia FIFA World Cup Ternyata Dibuat di Indonesia

Rabu, 19 Agustus 2026 - 13:32 WIB

BM Diah wartawan, pendiri Harian Merdeka pernah menyimpan Teks Proklamasi Asli Tulisan Tangan Soekarno Selama 47 Tahun

Senin, 17 Agustus 2026 - 19:32 WIB

Petugas Pengibar Bendera dan Pembawa Baki HUT ke-81 RI di Istana Negara

Minggu, 16 Agustus 2026 - 10:10 WIB

Sejumlah Kepala Daerah di Wilayah Regional Sumatera, menerima Apresiasi Penghargaan Dari Kementerian Dalam Negeri

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 14:16 WIB

Jembatan Ampera Palembang: Ikon Sumsel.

Berita Terbaru

Tiga merek motor Jepang: Yamaha Suzuki Honda(Foto:Pinterest)

Otomotif

Sejarah Otomotif : Yamaha,Suzuki,Honda Masuk ke Indonesia

Sabtu, 22 Agu 2026 - 20:33 WIB