Qixiobuzz.com – IRAQ. Maulid Nabi Muhammad SAW adalah peringatan hari kelahiran Baginda Rasulullah SAW yang jatuh setiap tanggal 12 Rabiul Awal. Tradisi ini sudah menjadi bagian dari kehidupan umat Islam di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Tapi tahukah kamu, siapa yang pertama kali menggagas peringatan ini secara besar-besaran?
Tokoh penggasnya Maulid dan yang Resmi meriahkan
Tokoh utamanya adalah Al-Malik Al-Muzaffar Abu said kukburi. Beliau adalah raja dari Irbi/ Erbil, wilayah yang sekaran masuk Irak. Beliau yang menggagas pertama beliau juga salah satu panglima dan sahabat dekat Shalahuddin Al-Ayyubi. Karena itu banyak mengitkan Maulid dengan Shalahuddun. Peringatan Maulid Nabi paling meriah pertama kali sekitar tahun 1207 Masehi, yang di resmikan oleh Shalahuddin Al-Ayyubi, atau yang dikenal di dunia Barat sebagai Saladin. Ada juga catatan dari sebagian ulama bahwa peringatan kecil sudah ada sejak masa Fatimiyah di Mesir sekitar tahun 362 H / 973 Masehi.
Jadi yang paling masyur dan meriah tradisi Maulid di zaman Shalahuddin beliau adalah Sultan dari Dinasti Ayyubiyah dan panglima besar Islam yang berhasil membebaskan Baitul Maqdis dari Pasukan Salib dalam Perang Salib.
Di tengah kesibukannya memimpin jihad dan mempersatukan umat Islam, Shalahuddin menyadari pentingnya menanamkan kecintaan kepada Rasulullah SAW di hati rakyatnya.
Tujuan Shalahuddin Mengadakan Maulid
Ada 3 tujuan utama mengapa Shalahuddin Al-Ayyubi memerintahkan peringatan Maulid:
- Menumbuhkan Semangat Jihad dan Cinta Rasul
Saat itu umat Islam sedang menghadapi Perang Salib. Dengan memperingati kelahiran Nabi, semangat meneladani akhlak, keberanian, dan perjuangan Rasulullah dibangkitkan kembali agar umat kuat menghadapi penjajah.
2. Mempersatukan Umat Islam
Kondisi politik saat itu terpecah. Peringatan Maulid dijadikan sarana untuk menyatukan berbagai mazhab dan kelompok agar kembali ke satu barisan: mencintai Nabi dan membela Islam. Acara digelar selama sebulan penuh di bulan Rabiul Awal. Disediakan makanan, uang, dan hadiah untuk semua kalangan.
Rincian Acara Maulid pertama di Irbil
Dilaporkan oleh sejarawan Ibnu katsir dan Khalkan :
- Pembacaan Sirah Nabi oleh ulama besar.
- Sedekah 5000 ekor domba, 10.000, ayam, dan 100.000 mangko makanan untuk rakyat
- Pembacaan Syair Madh / pujian kepada Nabi
- Dihadiri 300 ulama,ahli fikih, dan ahli tasawuf
Tujuanya mempersatukan umat, menghidupkan cinta kepada Rasullah, dan membangkitkan semangat melawan penjajah.
- Meneladani Akhlak Nabi
Dalam peringatan tersebut, para ulama diundang untuk berceramah tentang sirah Nabi, kedermawanan, kepemimpinan, dan akhlak beliau. Tujuannya agar rakyat meneladaninya dalam kehidupan sehari-hari.
Bagaimana Peringatan Pertama Kali Itu?
Pada masa Shalahuddin, peringatan Maulid diadakan dengan sangat meriah di Mesir dan Syam.
Isinya berupa:
– Pembacaan sirah Nabi oleh para ulama
– Sedekah makanan kepada fakir miskin dan rakyat
– Pembacaan shalawat dan pujian kepada Nabi
– Hiburan islami seperti nasyid
Seluruh biaya ditanggung oleh Baitul Mal. Rakyat dari berbagai kalangan diundang. Tidak ada unsur maksiat, murni untuk mendekatkan diri kepada Allah dan Rasul-Nya.
Apakah Ada Dalilnya?
Para ulama sepakat bahwa Maulid hukumnya mubah hingga sunnah jika isinya kebaikan: shalawat, sedekah, dakwah, dan menghidupkan sunnah.
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dan Imam As-Suyuthi termasuk ulama yang membolehkan dan menganjurkan Maulid selama tidak ada kemungkaran di dalamnya.
Warisan Shalahuddin Sampai Sekarang
Setelah era Shalahuddin, tradisi Maulid terus berkembang ke seluruh dunia Islam. Dari Turki Utsmani, ke Afrika Utara, Asia Selatan, hingga Nusantara.
Di Indonesia, Maulid menjadi momentum besar: ada pengajian, shalawatan, santunan, dan ceramah. Semua itu muaranya dari semangat yang dulu ditanamkan Shalahuddin Al-Ayyubi: *menghidupkan cinta kepada Nabi sebagai sumber kekuatan umat.
Kesimpulan
Jadi, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW secara resmi oleh Shalahuddin Al-Ayyubi antara tahun. Bukan sekadar seremonial, tapi sebagai strategi dakwah dan pemersatu umat di masa sulit. Hingga hari ini, setiap kali kita bershalawat dan mengenang kelahiran beliau di bulan Rabiul Awal, kita sedang melanjutkan warisan cinta dari seorang panglima besar Islam.(MM#).










