Qixiobuzz.com – YAMAN. Di antara jutaan umat Nabi Muhammad SAW, ada satu nama yang tidak pernah bertemu beliau secara langsung, tapi justru disebut-sebut dan dipuji oleh Rasulullah SAW sendiri. Namanya: Uwais Al-Qarni.
Kisahnya adalah kisah tentang bakti, zuhud, dan cinta yang tulus kepada Allah SWT dan orang tua.
Siapa Uwais Al-Qarni?
Uwais bin Amir Al-Qarni lahir di Qarn, Yaman. Beliau bukan sahabat Nabi karena tidak pernah bertemu langsung dengan Rasulullah SAW. Tapi beliau termasuk golongan Tabi’in, yaitu orang yang beriman kepada Nabi dan bertemu dengan para sahabat.
Ciri fisiknya sederhana. Tubuhnya kurus, kedua bahunya ada tanda putih bekas penyakit kulit yang sudah sembuh, kecuali sebesar uang dirham. Itulah tanda yang disampaikan Rasulullah SAW kepada Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib.
Alasan Tidak Bisa Bertemu Rasulullah
Padahal Uwais sangat rindu bertemu Nabi. Namun ada satu penghalang besar: *Ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan.
Setiap kali ingin berangkat ke Madinah, Uwais selalu berpikir: “Siapa yang menjaga ibuku?”. Akhirnya kecintaan kepada ibunya mengalahkan kerinduannya bertemu Nabi. Ia memilih tetap di Yaman merawat sang ibu.
Ketika akhirnya ibunya mengizinkan, datanglah kabar bahwa Rasulullah SAW telah wafat. Uwais menangis. Tapi ia ridho, karena baktinya kepada ibu adalah jalan yang diridhoi Allah.
Pesan Rasulullah Tentang Uwais
Sebelum wafat, Rasulullah SAW berpesan kepada Umar dan Ali:
> “Akan datang kepada kalian Uwais bin Amir, bersama para rombongan penduduk Yaman. Dia berbakti kepada ibunya. Dia memiliki penyakit kulit lalu sembuh, kecuali sebesar dirham. Mintalah kepadanya agar memohonkan ampunan untuk kalian.”
> HR. Muslim
Bayangkan, manusia biasa yang tidak terkenal di bumi, tapi sangat terkenal di langit. Para malaikat mengenalnya.
Hidup Sederhana dan Zuhud
Setelah kepergian Nabi, Uwais hidup sangat sederhana di Kufah, Irak. Ia bekerja sebagai penggembala dan tukang membuat pakaian. Gajinya habis untuk sedekah.
Ia tidak mau dikenal orang. Ketika Umar bin Khattab dan Ali menemukannya dan meminta doa, Uwais justru meminta agar namanya tidak disebarluaskan. Baginya, cukup Allah yang tahu.
Pelajaran dari Kisah Uwais Al-Qarni
Dari kisah beliau kita belajar 3 hal penting:
- Bakti kepada orang tua mengalahkan segalanya. Ridho Allah ada pada ridho orang tua.
- Ikhlas. Berbuat baik tanpa ingin dipuji manusia. Cukup Allah yang menilai.
- Zuhud. Hidup sederhana, tidak mengejar dunia, fokus akhirat.
Penutup
Uwais Al-Qarni wafat di Kufah dan dimakamkan di sana. Makamnya masih diziarahi sampai sekarang.
Ia bukti bahwa kemuliaan seseorang bukan dari gelar, jabatan, atau banyaknya followers. Tapi dari ketulusan hati, bakti, dan keikhlasan.
Semoga kita bisa meneladani secuil dari akhlak Uwais Al-Qarni. Aamiin.(MM#).










